Konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran telah berlangsung selama 100 hari hingga Minggu (7/6/2026).
Perang ini terus memicu volatilitas besar pada seluruh kelas aset di berbagai belahan dunia karena kesepakatan damai belum tercapai.
>>> OPEC+ Setujui Kenaikan Produksi Minyak Lagi di Tengah Konflik AS-Iran
Negosiasi diplomatik antara Washington dan Teheran masih dalam kebuntuan.
Kedua belah pihak kerap mengirimkan sinyal yang bertolak belakang mengenai progres pembicaraan damai, sembari sesekali meluncurkan serangan militer.
Meskipun demikian, gencatan senjata dalam skala rapuh masih diupayakan agar diplomasi tetap berjalan. Konfrontasi ini memberikan tekanan berat bagi stabilitas ekonomi dan sebagian pasar finansial global.
Bursa Saham AS Justru Menguat
Bursa saham global sempat merosot tajam sesaat setelah perang pecah melibatkan AS, Israel, dan Iran. Namun, pasar saham Wall Street justru memperlihatkan momentum penguatan signifikan.
Para investor di bursa AS tampak tidak menghiraukan efek negatif pertempuran, tingginya harga minyak, maupun ancaman inflasi.
Indeks S&P 500 bahkan berhasil mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di tengah kecamuk perang.
Kepala investasi Netwealth, Iain Barnes, menyatakan pergerakan pasar saham sempat dikuasai asumsi stagflasi, terutama bagi negara-negara pengimpor energi utama.
Namun, antusiasme terhadap adopsi kecerdasan buatan (AI) serta kondisi internal korporasi yang solid berhasil mengalihkan perhatian pelaku pasar.
"Hal ini menyebabkan pasar saham melonjak lebih tinggi, tetapi jelas dipimpin oleh perusahaan-perusahaan di pasar AS dan Asia yang dianggap sebagai penerima manfaat langsung dari pengeluaran untuk AI," kata dia dikutip dari CNBC, Senin (8/6/2026).
"Saham-saham Eropa lebih lesu karena dampak kenaikan biaya energi lebih bermasalah," imbuh dia.
Kepala investasi BRI Wealth Management, Toni Meadows, menambahkan bahwa masifnya pendanaan infrastruktur AI mendongkrak saham semikonduktor karena tingginya permintaan kapasitas komputasi.
Negara seperti Korea Selatan dan Taiwan turut menikmati pertumbuhan ekonomi dari tren tersebut.
Mengenai risiko makro, Toni Meadows memprediksi inflasi berpotensi mendaki selama Selat Hormuz diblokade. Kendati demikian, pasar berspekulasi bahwa Donald Trump maupun pihak Iran tidak berkeinginan memperpanjang eskalasi senjata.