Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan tajam sebesar 35,52 persen secara year-to-date (YTD) hingga ditutup pada level 5.594,77 poin.
Tekanan ekonomi global dan domestik menjadi pemicu utama pelemahan ini pada Minggu (7/6/2026).
>>> Prabowo Subianto Apresiasi Siswa Duta Anti Perundungan di Tabanan
Dalam satu hari perdagangan, IHSG kehilangan 245,02 poin atau 4,20 persen.
Koreksi dalam satu bulan terakhir mencapai 21,05 persen, sementara penurunan enam bulan sebesar 35,39 persen.
Pergerakan MSCI Emerging Markets Index mendorong investor internasional beralih ke aset aman seperti obligasi pemerintah AS.
Hal ini berdampak pada MSCI Indonesia Index yang berisi saham-saham unggulan berkapitalisasi besar.
Strategi Akumulasi Bertahap
Menurut Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, kondisi koreksi tajam IHSG menyediakan ruang valuasi yang sangat murah.
Namun, investor disarankan tidak bertindak agresif.
>>> Massimo Rivola Kritik Jorge Martin Usai Insiden MotoGP Hungaria
“Strategi yang paling bijak saat ini adalah gradual accumulation dengan pendekatan defensif-selektif, bukan langsung agresif masuk (all-in),” kata Nafan kepada IDN Times.
Volatilitas nilai tukar rupiah dan aksi jual bersih (net sell) harian oleh investor asing menjadi faktor risiko utama.
Pasar saat ini masih dalam fase pembentukan landasan baru.
“Masuk secara agresif saat volatilitas rupiah masih tinggi dan asing masih mencatatkan net sell harian yang besar sangat berisiko (catching a falling knife),” ujar Nafan.
Pembelian saham sebaiknya difokuskan pada saham berkapitalisasi besar yang sudah mengalami jenuh jual atau oversold. Strategi pembelian bertahap dilakukan untuk meminimalkan risiko membeli di harga terlalu tinggi.
“Tactical strategy, lakukan pembelian secara bertahap (buy on weakness) pada saham-saham berkapitalisasi besar yang harganya sudah jenuh jual (oversold), terutama ketika indikator teknikal menunjukkan pembalikan arah jangka pendek,” tutur Nafan.
>>> OPEC+ Kembali Naikkan Target Produksi Minyak di Tengah Gangguan Distribusi
Modal dalam negeri diharapkan dapat menyerap pasokan saham diskon yang dilepas investor asing. Pendekatan investasi ini idealnya diterapkan dengan orientasi jangka menengah hingga jangka panjang.