⌂ Beranda News OPEC+ Kembali Naikkan Target Produksi Minyak di Tengah Gangguan Distribusi

OPEC+ Kembali Naikkan Target Produksi Minyak di Tengah Gangguan Distribusi

OPEC+ Kembali Naikkan Target Produksi Minyak di Tengah Gangguan Distribusi
Pertemuan OPEC+ membahas target produksi minyak
A A Ukuran Teks16px

OPEC+ kembali menyepakati kenaikan target produksi minyak pada Minggu (7/6/2026). Keputusan ini menjadi kenaikan keempat secara berturut-turut dalam empat bulan terakhir.

Langkah ini melanjutkan upaya organisasi untuk secara bertahap mengembalikan pasokan yang sebelumnya dipangkas.

>>> Polri Jamin Seleksi Akpol 2026 Profesional dan Bebas Jalur Belakang

Namun, pasar minyak dunia masih menghadapi situasi yang tidak biasa. Meski target produksi terus dinaikkan, pasokan minyak global tetap ketat akibat terganggunya arus distribusi melalui Selat Hormuz.

Konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran menjadi pemicu gangguan tersebut.

Kenaikan Target Produksi Juli 2026

Dalam pertemuan pada Minggu, tujuh anggota inti OPEC+ menyetujui kenaikan target produksi sebesar 188.000 barel per hari (bph) mulai Juli 2026.

Besaran ini sama dengan kenaikan yang diberlakukan pada Juni lalu.

Tujuh negara yang terlibat adalah Arab Saudi, Irak, Kuwait, Aljazair, Kazakhstan, Rusia, dan Oman.

Sebelumnya, kelompok ini telah meningkatkan kuota produksi sejak April 2026. Secara keseluruhan, tujuh anggota inti telah menaikkan target hampir 600.000 bph selama April hingga Juni 2026.

Kenaikan pada Juli melanjutkan upaya pembatalan kebijakan pemangkasan produksi yang disepakati pada 2023.

OPEC menyebut keputusan diambil setelah meninjau kondisi pasar global dan prospek ekonomi dunia yang mendukung kebutuhan pasokan tambahan.

Produksi Aktual Justru Menurun

Meski target produksi meningkat, kondisi di lapangan menunjukkan cerita berbeda. Produksi aktual OPEC+ justru mengalami penurunan tajam akibat terganggunya ekspor minyak dari negara-negara Teluk.

Produksi rata-rata pada April 2026 tercatat 33,19 juta bph, jauh lebih rendah dibandingkan 42,77 juta bph pada Februari 2026.

Penurunan ini terjadi karena perang AS-Iran mengganggu aliran minyak melalui Selat Hormuz, salah satu jalur perdagangan energi terpenting di dunia.

Sejumlah anggota utama, termasuk Arab Saudi, tidak mampu memasok pelanggan secara penuh sejak akhir Februari 2026.

Selain itu, Uni Emirat Arab memutuskan keluar dari OPEC setelah hampir 60 tahun menjadi anggota.

Kepergian ini memengaruhi perhitungan kuota, sehingga kenaikan target Juni dan Juli disesuaikan menjadi 188.000 bph dari sebelumnya 206.000 bph.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru