⌂ Beranda News Melihat Tekanan Melalui Kacamata Rafael Nadal: Strategi Finansial Generasi Sandwich

Melihat Tekanan Melalui Kacamata Rafael Nadal: Strategi Finansial Generasi Sandwich

Melihat Tekanan Melalui Kacamata Rafael Nadal: Strategi Finansial Generasi Sandwich
Rafael Nadal sedang bermain tenis
A A Ukuran Teks16px

Baru-baru ini, dokumenter tentang Rafael Nadal di Netflix menyajikan lebih dari sekadar kisah trofi dan kemenangan. Yang membekas adalah cara petenis Spanyol itu memandang tekanan.

Sepanjang kariernya, ia menghadapi cedera, kekalahan, dan keraguan, namun selalu kembali dengan pendekatan yang sama: fokus pada poin berikutnya, bukan pada papan skor.

>>> Korlantas Polri Tunda Operasi Patuh 2026, Fokus pada Hari Bhayangkara

Saat nilai tukar rupiah menembus Rp 18.000 per dollar AS, filosofi Nadal terasa relevan.

Bagi jutaan generasi sandwich di Indonesia, tekanan ekonomi hari ini seperti pertandingan panjang yang tak kunjung usai.

Mereka harus menjaga keseimbangan antara kebutuhan anak, orangtua, dan diri sendiri, sembari menghadapi lapangan yang terus berubah akibat pelemahan nilai tukar dan ketidakpastian ekonomi.

Pukulan dari Berbagai Arah

Generasi sandwich adalah kelompok yang berada di tengah dua tanggung jawab sekaligus.

Mereka membiayai kehidupan sendiri dan anak-anak, tetapi pada saat yang sama juga membantu orangtua atau anggota keluarga yang lebih tua.

Ketika ekonomi sedang baik, beban itu sudah cukup berat. Ketika rupiah melemah, tekanan menjadi berlapis.

Harga barang impor berpotensi meningkat. Biaya pendidikan luar negeri naik.

Harga bahan baku industri yang bergantung pada impor ikut terdorong. Dunia usaha menghadapi kenaikan biaya produksi.

Pada akhirnya, masyarakat berhadapan dengan risiko kenaikan harga barang dan jasa.

Bagi generasi sandwich, situasi ini menyerupai pertandingan tenis lima set. Masalahnya bukan sekadar memenangkan satu poin, melainkan menjaga stamina untuk bertahan sepanjang pertandingan.

Banyak generasi sandwich hidup dalam kondisi keuangan yang sudah sangat tipis. Gaji bulanan tidak hanya digunakan untuk kebutuhan rumah tangga sendiri.

Ada cicilan rumah, biaya sekolah anak, kebutuhan transportasi, hingga pengeluaran rutin untuk orangtua. Sebagian bahkan masih menanggung biaya kesehatan orangtua yang terus meningkat seiring bertambahnya usia.

Ketika nilai tukar rupiah melemah, tekanan tersebut bisa datang dari berbagai arah sekaligus. Produk-produk elektronik, gawai, dan kebutuhan rumah tangga yang mengandung komponen impor berpotensi menjadi lebih mahal.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru