Harga beras di pasar global mulai menunjukkan penguatan pada tahun 2026 setelah sempat tertekan sepanjang 2025 akibat pasokan melimpah.
Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) mencatat indeks harga beras kembali naik dalam beberapa bulan terakhir.
>>> Polisi Selidiki Dugaan Tabrak Lari Tokoh Pramuka di Tangerang
FAO Rice Price Index (FARPI) mencapai rata-rata 102,1 poin pada April 2026. Angka ini naik 1,9 persen dibandingkan Maret 2026.
Namun, jika dibandingkan dengan April 2025, indeks masih lebih rendah 2,7 persen.
Kenaikan ini mengubah tren setelah harga melemah 3 persen pada Maret 2026 akibat panen dan depresiasi mata uang terhadap dolar AS.
FAO menyebut faktor utama penguatan adalah kenaikan biaya produksi dan distribusi di negara eksportir utama.
Lonjakan harga minyak mentah turut membengkakkan biaya logistik internal.
Beras jenis Indica menguat di sebagian besar Asia karena meningkatnya biaya operasional pemanenan, penggilingan, pengemasan, dan transportasi domestik.
Kondisi berbeda terjadi di India, di mana harga beras melemah dua bulan berturut-turut. Panen musim sela yang berlanjut menjaga stok tetap melimpah.
Ketersediaan Pasokan Dunia Tetap Memadai
FAO menegaskan kenaikan indeks harga bukan karena kelangkaan barang. Stok pangan di pasar internasional masih longgar dan mencukupi.
>>> Pemerintah Salurkan Subsidi Energi Rp 203 Triliun hingga Mei 2026
Berdasarkan laporan Food Price Monitoring and Analysis Bulletin edisi Mei 2026, kenaikan harga murni didorong oleh tekanan biaya input pertanian.
Situasi ini berbeda dengan krisis 2023 saat India membatasi ekspor dan memicu lonjakan harga tertinggi dalam satu dekade.
Pasar saat ini didukung oleh volume produksi global yang tinggi dalam beberapa musim terakhir.
Tren tersebut sempat menekan harga beras sepanjang 2025 seiring penurunan permintaan dari negara pengimpor besar.
Pergerakan harga tidak seragam karena setiap varietas memiliki dinamika konsumsi tersendiri. Pada Februari 2026, indeks sempat naik 0,4 persen karena kuatnya permintaan beras basmati dan japonica.
Sektor pangan tetap menghadapi ancaman dari area geopolitik dan fluktuasi energi. Gangguan di Selat Hormuz berimbas pada kenaikan harga bahan bakar dan pupuk, memaksa produsen menyesuaikan harga jual.
Faktor iklim seperti potensi El Nino di Asia juga membayangi produktivitas lahan.
>>> Kemnaker Buka Pendaftaran Sertifikasi Kompetensi MagangHub Batch 2
Kekhawatiran terhadap cuaca dan ongkos produksi telah mengerek harga beras sekitar 15 persen di pasar internasional baru-baru ini.