⌂ Beranda News Rupiah Melemah ke Rp 18.170 per Dollar AS Akibat Sentimen Domestik

Rupiah Melemah ke Rp 18.170 per Dollar AS Akibat Sentimen Domestik

Rupiah Melemah ke Rp 18.170 per Dollar AS Akibat Sentimen Domestik
Grafik pelemahan rupiah terhadap dollar AS
A A Ukuran Teks16px

Nilai tukar rupiah di pasar spot melemah 134 poin atau 0,75 persen ke level Rp 18.170 per dollar AS pada Senin (8/6/2026) pukul 11.00 WIB.

Pelemahan ini dipicu oleh bauran tekanan eksternal global dan persepsi negatif investor terhadap program domestik.

>>> BMKG Catat Sembilan Wilayah Indonesia Diterjang Tsunami Minor

Faktor Eksternal dan Domestik

Dari eksternal, penguatan indeks dollar AS membebani mata uang negara berkembang. Konflik geopolitik di Timur Tengah juga memicu lonjakan harga minyak mentah dunia.

Presiden Direktur PT Doo Financial Futures, Ariston Tjendra, mengatakan pelemahan rupiah saat ini merupakan bauran faktor eksternal dan internal.

Pengaruh eksternal cukup kuat karena tidak hanya rupiah yang melemah.

Dari dalam negeri, tekanan diperberat aksi jual bersih investor asing di pasar saham akibat penyesuaian indeks global termasuk MSCI.

>>> Polisi Selidiki Kematian Anak Sembilan Tahun di Jasinga Bogor

Pelaku pasar sensitif terhadap rancangan kebijakan yang berpotensi menaikkan belanja negara tanpa tata kelola transparan.

Program Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa Merah Putih, dan pembentukan Danantara menjadi sorotan.

Ariston menilai pelemahan rupiah sudah di luar batas kewajaran. Otoritas fiskal dan moneter diminta memberikan perhatian serius karena berisiko mengganggu stabilitas ekonomi.

Pemerintah disarankan memperkuat cadangan valuta asing melalui optimalisasi ekspor, pariwisata, dan investasi asing langsung. Jika nilai tukar terus menyimpang dari asumsi APBN, restrukturisasi anggaran harus segera dilakukan.

>>> Tuchel Tak Jamin Posisi Utama Bellingham di Piala Dunia 2026

Bank Indonesia diharapkan tetap aktif mengintervensi pasar valas untuk meredam volatilitas. Kegagalan menjaga stabilitas rupiah berisiko memicu inflasi, pembengkakan utang korporasi, dan potensi PHK.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru