Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan mendalam pada awal pekan ini.
Pada penutupan perdagangan sesi pertama Senin (8/6/2026), indeks merosot sebesar 2,87 persen ke level 5.434,306.
>>> Los Angeles Bersihkan Tenda Tunawisma Jelang Piala Dunia 2026
Pergerakan indeks saham domestik terpantau fluktuatif sejak pembukaan dengan kecenderungan melemah.
Penurunan ini dipicu oleh aksi jual pada saham-saham perbankan dengan kapitalisasi besar serta anjloknya saham PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM).
Koreksi yang terjadi tidak hanya melanda saham-saham unggulan, melainkan menyebar secara merata ke seluruh sektor. Sektor kesehatan dan sektor infrastruktur mencatat penurunan paling dalam pada paruh pertama perdagangan.
Kondisi pasar dalam negeri kian diperburuk oleh sentimen negatif dari eksternal.
Bursa saham di kawasan Asia kompak mengalami pelemahan tajam, dipimpin oleh indeks Kospi di Korea Selatan yang ambruk hingga lebih dari 7 persen.
Di sisi lain, pergerakan nilai tukar rupiah yang melemah turut menjadi perhatian serius bagi para pelaku pasar.
>>> Kabel PLN Meledak di Cilandak, Dua Pekerja Luka Bakar
Situasi ini berpotensi meningkatkan beban bagi emiten yang memiliki ketergantungan pada impor atau eksposur utang valuta asing.
IHSG awalnya dibuka pada level 5.486,31, kemudian langsung merosot hingga menyentuh titik terendah di angka 5.346,34.
Meskipun sempat menunjukkan upaya rebound, indeks gagal menembus zona hijau dan tertahan di kisaran 5.430-an hingga sesi pertama berakhir.
Berdasarkan data dari Bursa Efek Indonesia (BEI), sebanyak 646 saham mencatat pelemahan, sedangkan 88 saham berhasil menguat dan 79 saham lainnya bergerak stagnan.
Aktivitas perdagangan di lantai bursa terpantau tetap tinggi dengan volume transaksi mencapai 20,24 miliar saham.
Frekuensi perdagangan tercatat sebanyak 1,37 juta kali dengan nilai transaksi atau turnover keseluruhan mencapai Rp12,92 triliun.
>>> Menantu Jadi Tersangka Kasus Sate Beracun di Boyolali
Akibat penurunan tajam ini, nilai total kapitalisasi pasar di Bursa Efek Indonesia ikut menyusut menjadi Rp9.571,71 triliun.