Sebuah unggahan di TikTok mengklaim bahwa Indonesia telah meninggalkan dolar Amerika Serikat dan beralih menggunakan yuan.
Narasi tersebut beredar sejak awal Juni 2026 dan mengaitkan kebijakan penerbitan Panda Bond dengan penggantian mata uang acuan.
>>> Mentan Soroti Anomali Harga TBS Petani saat Dolar AS Menguat
Video viral tersebut telah disaksikan ratusan ribu kali dan memicu diskusi di kalangan warganet.
Klaim ini menyatakan bahwa Menteri Keuangan Purbaya mencabut penggunaan dolar AS dan menggantinya dengan yuan.
Namun, hasil penelusuran cek fakta menunjukkan bahwa klaim tersebut menyesatkan.
Tidak ada kebijakan resmi dari pemerintah Indonesia yang menyatakan penghentian penggunaan dolar AS atau penggantian sepenuhnya dengan yuan sebagai mata uang utama.
Menteri Keuangan Purbaya sebelumnya memang menjelaskan mengenai penerbitan Panda Bond. Pernyataan tersebut disampaikan dalam konteks memperkuat nilai tukar dengan diversifikasi sumber pendanaan, bukan penghapusan peran dolar AS.
Panda Bond adalah surat utang yang diterbitkan dalam mata uang yuan di pasar keuangan Tiongkok.
Sebelum Panda Bond, pemerintah Indonesia juga telah menerbitkan Global Bond dalam dolar AS dan Samurai Bond dalam yen Jepang.
>>> Dua Pekerja Pipa Luka Bakar Akibat Ledakan Kabel Listrik di Cilandak
Menurut Ekonom David Sumual, penerbitan Panda Bond merupakan bagian dari strategi jangka menengah hingga panjang untuk diversifikasi pembiayaan.
Hal ini bertujuan untuk menekan risiko ketergantungan pada satu mata uang asing.
Kebutuhan likuiditas yuan yang meningkat dalam aktivitas perdagangan dengan Tiongkok menjadi salah satu alasan penerbitan Panda Bond. Beberapa mitra dagang kini mulai mensyaratkan penyelesaian transaksi dalam yuan.
David Sumual menambahkan bahwa diversifikasi mata uang penting untuk melindungi perekonomian domestik dari gejolak geopolitik global yang dapat memengaruhi nilai tukar.
Meskipun ada upaya diversifikasi, dolar AS tetap memegang posisi dominan dalam sistem keuangan global dan perdagangan internasional Indonesia.
Sekitar 89 persen transaksi global, termasuk di pasar modal serta ekspor-impor, masih menggunakan dolar AS.
Bagi eksportir Indonesia, mayoritas transaksi masih mengandalkan dolar AS.
>>> Arsenal Pertimbangkan Lepas Leandro Trossard di Bursa Transfer Musim Panas
Meskipun penggunaan yuan dalam transaksi impor mulai meningkat, hal tersebut belum menggeser kedudukan dominan dolar AS dalam perdagangan internasional Indonesia.