⌂ Beranda News Ekonom: Fundamental Ekonomi Indonesia Kuat, Tapi Belum Hilangkan Kekhawatiran Pasar

Ekonom: Fundamental Ekonomi Indonesia Kuat, Tapi Belum Hilangkan Kekhawatiran Pasar

Ekonom: Fundamental Ekonomi Indonesia Kuat, Tapi Belum Hilangkan Kekhawatiran Pasar
Ilustrasi ekonomi Indonesia
A A Ukuran Teks16px

Sejumlah petinggi negara kerap mengklaim fundamental ekonomi Indonesia kuat. Namun, benarkah demikian?

Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menilai fundamental ekonomi Indonesia masih cukup kuat untuk menahan gejolak ekonomi dan keuangan yang terjadi saat ini.

>>> Indonesia dan Filipina Sepakati Barter Bijih Besi dan Tekstil

Kekuatan tersebut, menurut Josua, belum cukup untuk membuat pasar mengabaikan berbagai risiko kebijakan dan tekanan yang membayangi perekonomian.

Pemerintah memiliki dasar ketika menyatakan fundamental ekonomi Indonesia masih kuat. Hal ini tercermin dari sejumlah indikator utama yang menunjukkan kondisi ekonomi domestik masih relatif terjaga.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 tercatat tinggi sebesar 5,61 persen.

Inflasi juga masih terkendali dalam target sasaran 1,5 sampai 3,5 persen, yaitu sebesar 3,08 persen secara tahunan pada Mei 2026.

Cadangan devisa masih memadai, meskipun turun menjadi 144,9 miliar dollar AS per akhir Mei 2026.

Neraca perdagangan juga tercatat surplus 89,1 juta dollar AS pada April 2026.

"Kalau pemerintah mengatakan fundamental ekonomi Indonesia kuat, pernyataan itu ada benarnya. Indonesia memang belum berada dalam kondisi krisis.

Sistem keuangan juga masih terjaga dan perbankan masih memiliki ketahanan yang cukup baik," ujar Josua kepada Kompas. com, Minggu (7/6/2026).

Kondisi tersebut menjadi bantalan penting yang membedakan situasi saat ini dengan periode krisis yang pernah dialami Indonesia pada 1998.

"Jadi dari sisi ketahanan jangka pendek, ekonomi Indonesia masih punya dasar yang cukup kuat," kata Josua.

>>> Trenggono Mundur dari TNI Setelah Ditunjuk Jadi Wakil Kepala BGN

Fundamental Ekonomi Tidak Cukup Kuat Redam Kekhawatiran Pasar

Meskipun demikian, Josua mengingatkan bahwa klaim fundamental ekonomi yang kuat tidak boleh membuat pemerintah mengabaikan tekanan yang sedang muncul.

Pelaku pasar kini tidak hanya memperhatikan pertumbuhan ekonomi dan inflasi.

Hal ini tercermin dari pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus level Rp 18.000 per dollar AS, tekanan di pasar saham, arus keluar dana asing, kenaikan biaya produksi industri manufaktur, tekanan harga energi, hingga kekhawatiran terhadap kondisi fiskal.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru