Isu pengelolaan limbah baterai mulai memicu perhatian seiring pertumbuhan populasi sepeda motor listrik di Indonesia yang semakin meningkat.
Banyak anggapan keliru dari masyarakat bahwa baterai kendaraan listrik yang mengalami penurunan performa atau kerusakan harus segera dibuang ke tempat sampah.
>>> KPK Tangkap Bupati Muara Enim Edison dalam Operasi Tangkap Tangan
Faktanya, komponen baterai motor listrik yang tidak lagi optimal tidak sepenuhnya menjadi sampah karena sebagian di antaranya masih bisa dimanfaatkan kembali.
Mekanisme penanganan limbah ini sangat bergantung pada tipe baterai yang digunakan, apakah berbasis Sealed Lead Acid (SLA) atau litium.
Penanganan Baterai SLA dan Litium
Pemilik bengkel spesialis motor listrik EV Solution di Pondok Aren, Tangerang Selatan, Muhlasin menyatakan bahwa kedua jenis baterai tersebut memiliki jalur penanganan yang berbeda.
Baterai jenis SLA yang umumnya terpasang pada motor listrik kelas entry level rupanya telah memiliki rantai pengumpulan dan pengolahan limbah yang terstruktur baik.
Proses pengelolaan jenis ini menyerupai perputaran limbah aki pada mobil konvensional yang sudah berjalan selama ini di masyarakat.
"Untuk SLA, sudah ada pabrik pengolah limbah yang mengambil sebulan sekali, sama seperti aki mobil," ujar Muhlasin.
Melalui sistem tersebut, komponen baterai SLA yang rusak tidak akan langsung menumpuk di tempat pembuangan akhir.
Perusahaan pengolahan limbah akan memproses ulang material seperti timbal beserta komponen lainnya untuk dijadikan sebagai bahan baku baru.
Kondisi berbeda terjadi pada limbah baterai litium yang jumlahnya terpantau belum terlalu masif karena masa pakainya yang relatif panjang dan trennya yang masih baru.
>>> Toprak Razgatlioglu Gagal Tembus Sepuluh Besar di MotoGP Hungaria 2026
Perbaikan pada baterai litium saat ini juga jarang melibatkan penggantian satu paket baterai secara utuh karena kerusakan biasanya hanya melanda beberapa sel atau sistem BMS saja.
