Banyak kebiasaan digital yang tanpa disadari mempercepat kerusakan perangkat elektronik dan membuka celah bagi ancaman siber.
Mulai dari menunda pembaruan sistem operasi hingga menyambungkan perangkat ke jaringan internet sembarangan, tindakan ini berpotensi memicu bahaya besar.
>>> Bambang Soesatyo Dorong Peningkatan Kerja Sama Migas Indonesia-Rusia
Para pemimpin IT merangkum sejumlah kebiasaan buruk yang sebaiknya segera dihentikan sebelum menimbulkan kerugian.
Kecerobohan Fisik dan Pengunduhan Aplikasi
Membiarkan ponsel, tablet, atau laptop dalam kondisi tidak terkunci saat ditinggal pergi merupakan kecerobohan yang sering dianggap sepele.
Orang di sekitar dapat dengan mudah mengakses data pribadi, aplikasi perbankan, hingga akun media sosial dalam sekejap.
Mengabaikan pemeliharaan rutin dan pengaturan proteksi dasar juga mempercepat kerusakan fisik gawai. Hal ini dapat memicu kebocoran data hingga kerugian finansial.
Kurangnya ketelitian dalam memeriksa email serta pesan masuk yang meminta informasi sensitif sangat berisiko. Menunda pembaruan sistem operasi dan aplikasi memperparah kondisi karena gawai kehilangan tambalan keamanan krusial.
Membawa laptop atau ponsel tanpa perlindungan memadai berpotensi memicu kerusakan permanen akibat lonjakan listrik, benturan, atau panas berlebih.
Gunakan pelindung tegangan listrik serta tas berbantalan, dan jangan tinggalkan gawai di dalam mobil yang terparkir.
Mengunduh aplikasi dari platform tidak resmi dapat mengundang malware berbahaya.
Disarankan hanya memasang aplikasi dari toko resmi seperti Google Play Store atau App Store dan menghindari tautan mencurigakan.
Kebiasaan makan dan minum di dekat gawai juga memicu kerusakan fatal yang umumnya menghanguskan garansi resmi.
Kombinasi Sandi Lemah dan Layanan Cloud
Penggunaan kata sandi yang mudah ditebak seperti tanggal lahir atau nama lengkap membuat akun pribadi menjadi sasaran empuk peretas.
>>> Shin Tae-yong Resmi Latih Persija Jakarta dengan Kontrak Tiga Tahun
Aktifkan autentikasi dua faktor (2FA) dan gunakan kata sandi unik untuk setiap platform.
Pengguna kerap mengaktifkan layanan tambahan pada komputasi awan namun lupa mematikannya setelah tidak digunakan. Layanan awan yang dibiarkan aktif dapat menyimpan data sensitif dan memicu pembengkakan tagihan.