Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) merilis laporan terbaru mengenai transisi tenaga kerja di Indonesia.
Riset berjudul "Transisi Tenaga Kerja di Indonesia: Profil dan Gambaran Durasi Pencarian Kerja" ini mengolah data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Agustus 2025.
>>> Korlantas Polri Tunda Operasi Patuh, Tunggu Waktu Tepat Jelang Nataru
Hasilnya menunjukkan bahwa durasi rata-rata masyarakat Indonesia untuk memperoleh pekerjaan mencapai 19,8 bulan atau hampir 20 bulan.
Analisis ini berfokus pada penduduk usia 15 tahun ke atas, termasuk mereka yang pernah bekerja setelah lulus namun saat ini menganggur.
Lulusan Tinggi Justru Lebih Lama
Secara teori, pendidikan tinggi seharusnya mempercepat seseorang mendapatkan pekerjaan. Namun, realitas di lapangan justru sebaliknya.
Lulusan perguruan tinggi mencatatkan waktu pencarian kerja yang lebih panjang dibanding lulusan berpendidikan rendah.
Fenomena ini terjadi karena lulusan pendidikan menengah ke bawah cenderung masuk ke sektor informal atau pekerjaan kerah biru yang tidak memiliki persyaratan ketat.
Sementara itu, alumni perguruan tinggi menghadapi ketidaksesuaian antara jurusan dengan lowongan kerja yang tersedia. Ekspektasi gaji dan jenis pekerjaan yang lebih tinggi juga menjadi kendala.
>>> PT Brinks Solutions Indonesia Perluas Jaringan dengan Cabang Baru dan Inovasi Teknologi
Berdasarkan data lintas generasi, durasi pencarian kerja lulusan S1/S2/S3 pada generasi 1990-2000 adalah 18,28 bulan, generasi 2001-2010 sebesar 16,49 bulan, dan generasi 2011-2025 sebesar 16,74 bulan.
Lulusan Diploma mencatatkan durasi 15,25 bulan (1990-2000), 16,57 bulan (2001-2010), dan 18,29 bulan (2011-2025).
Sementara lulusan SMA/MA/SMK memiliki durasi 22,32 bulan (1990-2000), 19,77 bulan (2001-2010), dan 21,16 bulan (2011-2025).
Selain latar belakang akademis, kecepatan mendapatkan pekerjaan juga dipengaruhi oleh keterampilan, pengalaman, lokasi tempat tinggal, kesesuaian jurusan, gender, dan ekspektasi upah.
Kelompok laki-laki tercatat memerlukan waktu lebih lama untuk memperoleh pekerjaan pertama.
Hal ini terkait dengan teori upah reservasi, di mana individu yang menetapkan standar upah tinggi cenderung lebih selektif dan rela menunggu lebih lama.
>>> Panduan Rute Transportasi Umum dan Akses Kendaraan ke Jakarta Fair 2026
Tekanan sosial terhadap laki-laki untuk mendapatkan pekerjaan yang mapan secara ekonomi dan status sosial juga mendorong mereka menjadi lebih pemilih dalam menentukan karier.