Saham empat bank besar di Indonesia mengalami penurunan tajam pada perdagangan Senin, 8 Juni 2026.
Aksi jual bersih (net foreign sell) oleh investor asing menjadi pemicu utama kejatuhan ini.
>>> Trump: Iran dan Israel Sedang Mengupayakan Gencatan Senjata
Penurunan terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar global dan tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
Data RTI Business menunjukkan saham PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) turun 6,23% ke level 3.010.
Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) melemah 5,47% ke posisi 2.590.
Sementara itu, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) turun 4,43% ke level 4.850, dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) melemah 3,39% menjadi 3.710.
Data Stockbit mencatat BBCA dan BBRI mencatatkan net foreign sell terbesar, masing-masing Rp 489,11 miliar dan Rp 298,49 miliar.
BMRI mencatat net foreign sell Rp 23,80 miliar.
Total net foreign sell di pasar modal domestik mencapai Rp 447,05 miliar. Namun, saham BBNI justru mencatat net foreign buy terbesar ketiga senilai Rp 37,94 miliar.
Analis: Pelemahan Akibat Sentimen Global
Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama, menilai penurunan harga saham ini tidak mencerminkan penurunan fundamental perbankan.
Menurutnya, kondisi ini dipicu oleh sikap pelaku pasar yang mengurangi kepemilikan pada aset berisiko.
>>> Timnas Mozambik Istirahatkan Pemain Bintang Jelang Lawan Indonesia
"Pelemahan saham perbankan hari ini lebih karena kombinasi global risk-off sentiment dan tekanan dari bursa Amerika serta regional yang juga melemah," ujar Elandry Pratama.
Saham perbankan memiliki kapitalisasi pasar besar dan bobot dominan terhadap IHSG. Hal ini membuat sektor tersebut paling cepat terdampak saat investor asing mengurangi eksposur.
"Bank jadi paling sensitif karena bobotnya besar di IHSG dan sangat dipengaruhi foreign flow. Ketika asing net sell, tekanan di sektor ini langsung terasa lebih dalam," jelasnya.
Fluktuasi nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh Rp 18.200 per dolar AS pada hari yang sama turut memicu kekhawatiran.
Koreksi rupiah mempertebal kecemasan investor asing terhadap stabilitas makroekonomi jangka pendek.
"Walaupun fundamental bank masih oke, di short term market tetap sensitif terhadap kombinasi FX volatility dan capital flow.
Wajar jika tekanan ke saham perbankan lebih terasa," tutur Elandry.
Faktor internal dinilai belum memadai untuk mengimbangi tekanan eksternal. Belum munculnya katalis positif baru dari sektor domestik membuat pergerakan saham perbankan sangat bergantung pada likuiditas global.
>>> KPK Periksa Bupati Muara Enim Edison di Polda Sumsel Usai OTT
"Pergerakan lebih banyak ditentukan oleh sentimen global dan liquidity condition, bukan perubahan fundamental bank," pungkas Elandry.
