Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa 35,36 persen pekerja muda Indonesia mengalami ketidaksesuaian antara tingkat pendidikan dan jenis pekerjaan yang mereka geluti.
Data tersebut berasal dari Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) yang dirilis BPS. Hanya sekitar 64,64 persen pekerja muda yang bekerja sesuai dengan tingkat pendidikan mereka.
>>> Marcus Rashford Tolak Bayern Munich demi Bertahan di Barcelona
Dari total pekerja muda yang mengalami mismatch, 22,36 persen masuk kategori overeducated atau memiliki pendidikan lebih tinggi dari yang dibutuhkan pekerjaan.
Sementara itu, 13 persen lainnya tergolong undereducated karena bekerja pada posisi yang membutuhkan pendidikan lebih tinggi.
Fenomena Wage Penalty dan Inefisiensi
Kondisi mismatch ini memicu fenomena wage penalty. Pekerja muda yang overeducated menerima upah lebih rendah sekitar 7,57 persen dibandingkan pekerja yang posisinya sesuai.
Ketidaksesuaian ini menciptakan inefisiensi ekonomi. Investasi pendidikan dari rumah tangga dan pemerintah tidak diterjemahkan menjadi produktivitas yang optimal.
BPS mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) nasional pada Februari 2026 sebesar 4,68 persen, turun 0,08 persen poin dibandingkan Februari 2025.
Namun, TPT pemuda masih tinggi, mencapai 12,24 persen pada periode yang sama.
Kompetisi Ketat dan Durasi Pencarian Kerja
Kajian LPEM FEB UI menunjukkan proporsi tenaga kerja berpendidikan sarjana terus meningkat.
Pada kelompok generasi 2010–2025, porsi lulusan S1, S2, dan S3 mencapai 20,62 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan generasi sebelum 1990 yang hanya 9,72 persen.
Ketika pertumbuhan lapangan kerja berkualitas tidak secepat pertumbuhan lulusan, muncul persaingan ketat.
Para sarjana kemudian mengisi posisi teratas antrean pencari kerja untuk posisi yang sebenarnya tidak membutuhkan gelar sarjana.
>>> Timnas Spanyol Tiba di Meksiko Tanpa Tiga Pemain Pilar
Rata-rata durasi pencarian kerja di Indonesia setelah menyelesaikan pendidikan mencapai 19,8 bulan. Lulusan pendidikan tinggi justru sering mengalami durasi pencarian kerja yang lebih panjang.
Melalui survival analysis, BPS menunjukkan pemuda berstatus overeducated memiliki peluang 7,37 persen lebih cepat untuk kembali bekerja dibandingkan kelompok yang sesuai pendidikan.