⌂ Beranda News 10 Negara yang Pernah Alami Krisis Moneter Parah di Dunia

10 Negara yang Pernah Alami Krisis Moneter Parah di Dunia

10 Negara yang Pernah Alami Krisis Moneter Parah di Dunia
Ilustrasi krisis moneter dengan grafik nilai tukar menurun
A A Ukuran Teks16px

Krisis moneter pernah melanda banyak negara di dunia, menyebabkan nilai mata uang domestik ambruk dan memicu keruntuhan ekonomi.

Berdasarkan catatan sejarah, berikut sepuluh negara yang mengalami krisis moneter paling parah.

>>> Teknisi Ungkap Cara Atasi Jarak Tempuh Baterai Mobil Listrik Menurun

Negara dengan Krisis Moneter Terparah

Vietnam mengalami keruntuhan ekonomi total pada 1980-an akibat perang dan kolektivisasi pertanian. Inflasi tiga digit dan krisis kemanusiaan terjadi sebelum reformasi Đổi Mới membawa pemulihan.

Rusia menghadapi krisis mata uang dan utang pada 1998. Inflasi melonjak hingga 84%, bank-bank tutup, dan kelangkaan pangan massal terjadi.

Pemulihan datang berkat kenaikan harga energi.

Brasil terkena imbas krisis keuangan Asia dan Rusia.

Investor menarik dana besar-besaran, dan negara itu diselamatkan paket bantuan IMF senilai 41,5 miliar dolar AS serta kebijakan mengambang bebas mata uang real.

Thailand menjadi titik awal krisis keuangan Asia 1997.

Mata uang baht runtuh, utang swasta melonjak, dan pemerintah meminta masyarakat menyerahkan perhiasan emas untuk dilebur demi menambah cadangan bank sentral.

Indonesia mengalami kemerosotan nilai tukar rupiah dari Rp 2.000 menjadi Rp 16.650 per dolar AS akibat krisis keuangan Asia 1997.

>>> Barcelona Siapkan Cesc Fabregas sebagai Pengganti Hansi Flick

Gejolak sosial-politik memuncak hingga mundurnya Presiden Soeharto.

India menyatakan kebangkrutan pada 1991 dengan cadangan devisa menipis. Negara itu menjaminkan seluruh cadangan emas untuk mendapatkan pinjaman dana talangan dari IMF.

Argentina dilanda resesi hebat dari 1998 hingga 2002. Keruntuhan ekonomi menyebabkan tingkat pengangguran di atas 20% dan 60% warganya jatuh di bawah garis kemiskinan.

Ukraina mengalami hiperinflasi hingga 4.735 persen pada 1993. Hal ini akibat belum adanya kebijakan moneter kokoh pasca-runtuhnya Uni Soviet serta maraknya korupsi.

Stabilitas tercapai setelah mata uang hryvnya diluncurkan pada 1996.

Yunani mengalami krisis utang berkepanjangan setelah memalsukan kondisi keuangan demi bergabung dengan zona euro.

Negara itu menerima pinjaman ratusan miliar euro dari IMF dan Uni Eropa disertai kebijakan penghematan ketat.

Zimbabwe dilanda hiperinflasi ekstrem hingga 79,6 miliar persen pada November 2008.

>>> Indomaret Tebar Promo Menarik Bulan Juni 2026, Diskon Member hingga Paket Hadiah

Bank sentral menerbitkan uang kertas 100 triliun dolar AS sebelum akhirnya mengadopsi dolar AS dan meluncurkan mata uang baru ZiG pada 2024.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru