Berbeda dari kota tua Eropa lainnya, Barcelona menampilkan pola tata kota yang sangat teratur, menyerupai kotak-kotak yang dirancang presisi.
Keunikan ini berakar dari krisis kepadatan penduduk yang dialami Barcelona pada pertengahan abad ke-19, saat kota ini masih dikelilingi tembok pertahanan.
>>> Rekap Wakil Indonesia di 16 Besar China Open 2026: 4 Lolos, 3 Gugur
Kawasan kota tua, Gothic Quarter, dipenuhi gang sempit dan sanitasi buruk yang memperparah kondisi kesehatan akibat Revolusi Industri.
Pla Cerdà: Solusi Perencanaan Kota
Setelah tembok pertahanan dibongkar, pemerintah memutuskan untuk memperluas kota. Insinyur Ildefons Cerdà memperkenalkan Pla Cerdà pada 1859, sebuah konsep tata kota revolusioner.
Konsep ini menciptakan distrik baru bernama Eixample dengan pola grid, di mana jalan-jalan lurus saling berpotongan membentuk blok persegi.
Desain ini bertujuan meningkatkan sirkulasi orang, kendaraan, udara, dan cahaya matahari, berbeda jauh dari labirin jalan di Gothic Quarter.
>>> Striker Wolves Tolu Arokodare Tolak Dijual, Latihan Tim Dibatalkan
Setiap sudut blok dipotong membentuk segi delapan atau chamfered corners (xamfrans) untuk menciptakan persimpangan yang lebih terbuka.
Cerdà juga menekankan pentingnya lingkungan sehat dengan merancang jalan lebar untuk aliran udara dan sinar matahari yang optimal.
Awalnya, setiap blok direncanakan memiliki ruang terbuka hijau di bagian tengah, namun seiring waktu, banyak yang beralih menjadi bangunan baru.
>>> Samsung Klaim Teknologi Layar Lipat Galaxy Sulit Ditiru Kompetitor
Hingga kini, Pla Cerdà dianggap sebagai salah satu perencanaan kota paling berpengaruh di dunia, menginspirasi banyak kota modern dengan konsep jalan lebar dan distribusi ruang yang merata.
