⌂ Beranda News Misteri Kematian Penguasa Medici: Malaria atau Diracun Saudara?

Misteri Kematian Penguasa Medici: Malaria atau Diracun Saudara?

Misteri Kematian Penguasa Medici: Malaria atau Diracun Saudara?
Ilustrasi: Misteri Kematian Penguasa Medici: Malaria atau Diracun Saudara?
A A Ukuran Teks16px

Kematian misterius Grand Duke Francesco I de Medici dan istrinya, Bianca Cappello, pada tahun 1587 telah lama diselimuti rumor.

Pasangan bangsawan Italia tersebut meninggal hanya selang beberapa jam setelah mengalami sakit parah berhari-hari.

>>> Final Piala Dunia 2026: Spanyol vs Argentina, Potensi Drama Menit Akhir

Gejala yang mereka alami, seperti demam yang hilang timbul, sempat mengarahkan pada dugaan malaria. Namun, teori konspirasi pembunuhan juga menguat, menuding Ferdinando, adik sekaligus saingan Francesco, sebagai pelakunya.

Ferdinando, yang merupakan pewaris takhta, memiliki motif karena posisinya terancam oleh Antonio, anak tidak sah Francesco.

Kunjungan Ferdinando ke kediaman kakaknya sesaat sebelum keduanya jatuh sakit semakin memperkuat kecurigaan ia meracuni mereka dengan arsenik.

Pasangan Medici jatuh sakit di vila mereka di Poggio a Caiano, dekat Florence, sebuah area yang dekat dengan rawa dan sawah, habitat ideal bagi nyamuk pembawa malaria.

Namun, sejarah keluarga Medici yang penuh intrik pembunuhan membuat rumor peracunan tetap bertahan.

Penelitian sebelumnya memberikan hasil yang beragam. Sejak 2004, analisis sisa kerangka dari makam keluarga Medici mengindikasikan malaria sebagai penyebab kematian Francesco.

Namun, studi toksikologi tahun 2006 menyimpulkan adanya keracunan arsenik.

Bukti DNA Mengungkap Kebenaran

Sebuah studi baru yang dipimpin oleh Serena Tucci dari Universitas Yale, bekerja sama dengan Universitas Pisa, menggunakan analisis DNA dari sisa kerangka Francesco dan salah satu saudara laki-lakinya, Giovanni, untuk mengakhiri perdebatan.

Valentina Giuffra, salah satu penulis studi dari Universitas Pisa, menjelaskan bahwa analisis paleo-imunologi sebelumnya telah mendeteksi jejak malaria, namun rumor pembunuhan tidak kunjung berhenti.

Metode paleo-imunologi menggunakan antigen untuk mendeteksi jejak penyakit pada jasad kuno. Sementara itu, analisis DNA dianggap lebih definitif karena mencari tanda genetik langsung dari suatu penyakit.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru
STIKIBOTOM