⌂ Beranda News Indonesia Hadapi Ancaman Middle-Income Trap di Tengah Pertumbuhan Ekonomi

Indonesia Hadapi Ancaman Middle-Income Trap di Tengah Pertumbuhan Ekonomi

Indonesia Hadapi Ancaman Middle-Income Trap di Tengah Pertumbuhan Ekonomi
Ilustrasi pertumbuhan ekonomi Indonesia dan ancaman middle-income trap
A A Ukuran Teks16px

Indonesia secara konsisten mencatat pertumbuhan ekonomi positif.

Sepanjang 2025, pertumbuhan nasional bertahan di kisaran 5 persen dan melonjak hingga 5,61 persen pada triwulan I 2026.

>>> Politeknik Energi dan Pertambangan Bandung Buka Pendaftaran Mahasiswa Baru 2026

Produk Domestik Bruto (PDB) nasional kini melampaui 1,4 triliun dolar AS. Angka ini menjadikan Indonesia sebagai kekuatan ekonomi terbesar di Asia Tenggara.

Pendapatan per kapita masyarakat telah menembus kisaran 5.000 dolar AS per tahun. Indonesia pun tetap berada dalam kelompok negara berpendapatan menengah atas menurut Bank Dunia.

Stabilitas ekonomi terjaga dalam dua dekade terakhir. Indonesia bertahan melewati krisis keuangan global, pandemi Covid-19, dan ketidakpastian geopolitik.

Kemajuan terlihat dari pembangunan infrastruktur, peningkatan investasi, dan transformasi digital. Namun, situasi ini memicu pertanyaan tentang posisi jangka panjang Indonesia.

Apakah Indonesia berada di jalur menuju negara maju atau mulai terjebak dalam middle-income trap? Fase ini telah menjadi tantangan berat bagi banyak negara berkembang.

Tantangan Produktivitas dan Manufaktur Nasional

Meski ekonomi tumbuh stabil, pertumbuhan tersebut belum mencerminkan kemajuan struktural. Perekonomian masih didominasi konsumsi rumah tangga yang menyumbang lebih dari separuh PDB.

Konsumsi berperan menjaga stabilitas, namun tidak cukup mendorong transformasi ekonomi. Negara yang lolos dari jebakan pendapatan menengah biasanya mencatat lonjakan produktivitas melalui industri berteknologi tinggi.

Indonesia masih mengandalkan aktivitas berproduktivitas rendah. Data BPS menunjukkan lebih dari separuh tenaga kerja berada di sektor informal dengan perlindungan sosial minim.

Sektor manufaktur yang seharusnya menjadi motor industrialisasi justru melemah kontribusinya terhadap PDB. Fenomena ini dikenal sebagai deindustrialisasi dini.

Pada awal 2000-an, kontribusi industri manufaktur terhadap PDB di atas 30 persen. Dalam dua dekade terakhir, angka tersebut menyusut hingga 18-19 persen.

Pelemahan ini sebelum negara mencapai pendapatan tinggi membatasi peluang penciptaan lapangan kerja berkualitas. Langkah taktis diperlukan agar produktivitas nasional tidak mandek.

Kutukan Sumber Daya Alam dan Bonus Demografi

Indonesia memiliki kekayaan alam melimpah seperti nikel, batu bara, dan kelapa sawit. Ketergantungan pada komoditas berisiko memicu kutukan sumber daya alam saat harga global berfluktuasi.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru