Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menekankan pentingnya penelitian lebih lanjut mengenai ketidakpastian sumber gempa di Pulau Jawa.
Hal ini bertujuan untuk mengurangi risiko bencana akibat sistem sesar yang kompleks di wilayah tersebut.
>>> Apple Luncurkan VisionOS 27 dan WatchOS 27 di WWDC 2026
Kondisi geologi Jawa memerlukan pemahaman mendalam karena karakteristik jalurnya belum sepenuhnya terpetakan secara rinci. Data yang akurat sangat dibutuhkan mengingat besarnya potensi dampak terhadap infrastruktur dan masyarakat.
Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Prof Danny Hilman Natawidjaja, mengungkapkan bahwa pengetahuan tentang sesar aktif di Jawa masih menyimpan banyak ketidakpastian.
"Ada sejumlah sesar yang sudah diketahui, tetapi karakteristik pentingnya seperti laju pergeseran, segmentasi, hingga magnitudo maksimum masih belum sepenuhnya dipahami," katanya.
Salah satu struktur yang patut diwaspadai adalah Java Back-Arc Thrust yang membentang dari Jakarta hingga Surabaya.
Tim peneliti BRIN juga menemukan keberadaan sesar aktif baru dan perubahan segmentasi saat melakukan penelusuran di area Gunung Ciremai.
"Setiap bukti geologi baru dapat mengubah pemahaman kita mengenai sumber gempa.
>>> Harga Bitcoin dan Ethereum Turun 9 Juni 2026, Spekulator Beralih ke Saham AI
Dampaknya mungkin tidak terlalu besar pada skala regional, tetapi dapat signifikan bagi penilaian bahaya di tingkat lokal," jelas Danny.
Pemetaan area sesar aktif dinilai mendesak karena potensinya tidak hanya memicu guncangan gempa, tetapi juga bencana ikutan seperti longsor, likuefaksi, rekahan permukaan, hingga tsunami lokal.
"Bangunan dapat dirancang agar lebih tahan terhadap guncangan gempa, tetapi sangat sulit merancang struktur yang mampu bertahan terhadap pergeseran permukaan tanah hingga beberapa meter akibat pergerakan sesar," kata Danny.
Sejumlah negara seperti Taiwan, Jepang, Selandia Baru, dan Amerika Serikat sudah menerapkan regulasi ketat terkait pembatasan pembangunan di zona rawan.
Di Indonesia, regulasi serupa masih menghadapi tantangan besar akibat keterbatasan data mengenai detail lokasi dan karakteristik sesar aktif.
"Risiko merupakan fungsi dari bahaya, paparan, dan kerentanan.
>>> Wuling Motors Tanggapi Kehadiran BYD M6 DM di Pasar MPV Listrik
Karena itu, peningkatan kualitas data bahaya, termasuk pemetaan sesar aktif dan pemahaman siklus gempa serta tsunami, menjadi fondasi penting untuk menghasilkan penilaian risiko yang lebih akurat," ungkap Danny.