Pelemahan pasar saham mendorong investor mencari instrumen yang lebih stabil. Surat Berharga Negara (SBN) Ritel menjadi salah satu pilihan yang banyak diperhatikan.
Instrumen ini menawarkan kupon berkala dan pokok investasi yang dijamin negara. Hal itu membuat SBN ritel sering menjadi alternatif saat pasar saham mengalami tekanan.
>>> Pemerintah Targetkan Pertumbuhan Ekonomi 5,8-6,5 Persen pada 2027
Keunggulan SBN Ritel di Tengah Volatilitas
Pasar saham memiliki potensi imbal hasil tinggi, tetapi juga risiko fluktuasi harga besar. Dalam ketidakpastian ekonomi, harga saham bisa bergerak cepat mengikuti sentimen.
Investor pun mengalihkan dana ke instrumen defensif seperti SBN Ritel. Menurut Kementerian Keuangan, SBN Ritel dapat dibeli individu WNI dan terdiri dari ORI, SR, SBR, dan ST.
Melalui instrumen ini, masyarakat berinvestasi sekaligus membiayai APBN. Daya tarik utama SBN ritel adalah kepastian pendapatan berupa kupon.
Pada ORI dan SR, investor mendapat kupon tetap (fixed rate) yang tidak berubah hingga jatuh tempo. Berbeda dengan saham yang imbal hasilnya tergantung harga dan dividen.
Selain itu, pembayaran pokok dan imbal hasil dijamin pemerintah berdasarkan UU No. 24/2002 dan UU No. 19/2008.
Risiko gagal bayar pun sangat rendah.
Perbedaan ORI, SR, SBR, dan ST
Meski sama-sama SBN ritel, setiap produk memiliki karakteristik berbeda. ORI dan SR dapat diperdagangkan di pasar sekunder, sehingga investor bisa menjual sebelum jatuh tempo.
>>> Timnas Indonesia Hadapi Mozambik di SUGBK demi Dua Kemenangan Beruntun
Namun, harga bisa naik atau turun, memberi peluang capital gain atau risiko capital loss. Sementara SBR dan ST tidak bisa diperdagangkan, tetapi ada fasilitas early redemption.
Dari sisi kupon, ORI dan SR menggunakan kupon tetap. SBR dan ST menggunakan kupon mengambang dengan batas minimal (floating with floor).
Kupon SBR dan ST bisa berubah mengikuti suku bunga acuan BI, namun tidak turun di bawah tingkat minimal yang ditetapkan.
Fitur ini menjadi nilai tambah saat ketidakpastian ekonomi.
OJK menekankan pentingnya diversifikasi investasi. SBN ritel dapat menjadi komponen penyeimbang portofolio, terutama saat pasar saham tertekan.
Pemerintah terus memperluas basis investor domestik melalui penerbitan SBN ritel. DJPPR telah menjadwalkan penerbitan ORI, SR, ST, dan SBR sepanjang 2026.
Seluruh instrumen dapat dibeli secara daring melalui e-SBN. Kemudahan akses ini memungkinkan masyarakat berinvestasi tanpa datang ke kantor bank atau sekuritas.
>>> DPR Panggil Himbara Bahas Penurunan Saham BUMN
Dana yang dihimpun digunakan untuk mendukung pembiayaan APBN dan program pembangunan nasional. SBN ritel menjadi alternatif stabil saat pasar saham bergejolak.