⌂ Beranda News Bank Indonesia Proyeksikan Rupiah Menguat ke Rp16.800-Rp17.500 pada 2027

Bank Indonesia Proyeksikan Rupiah Menguat ke Rp16.800-Rp17.500 pada 2027

Bank Indonesia Proyeksikan Rupiah Menguat ke Rp16.800-Rp17.500 pada 2027
Ilustrasi penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS
A A Ukuran Teks16px

Bank Indonesia (BI) memproyeksikan nilai tukar rupiah akan menguat pada tahun 2027. Mata uang Garuda diperkirakan bergerak di kisaran Rp16.800 hingga Rp17.500 per dolar Amerika Serikat.

Proyeksi ini disampaikan Gubernur BI Perry Warjiyo dalam rapat kerja bersama Badan Anggaran DPR RI, Selasa (9/6/2026).

>>> Michel Platini Gugat FIFA dan Gianni Infantino Terkait Kasus 2015

Perry menyebutkan asumsi makro tersebut sejalan dengan Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM PPKF) 2027.

"Mengenai nilai tukar, kami memandang 2027 nilai tukar akan menguat. Rupiah kisarannya sama dengan pemerintah Rp16.800 sampai Rp17.500," ujar Perry.

Lima Faktor Penguat Rupiah

Perry menjelaskan ada lima faktor utama yang mendasari optimisme BI terhadap penguatan rupiah. Faktor pertama adalah akselerasi pertumbuhan ekonomi dunia yang diperkirakan meningkat menjadi 3,1 persen.

"Kondisi geopolitik kita harapkan akan membaik dan mendorong improvement negara emerging market termasuk Indonesia," kata Perry.

Faktor kedua adalah ketahanan fundamental ekonomi domestik. Hal ini mencakup pertumbuhan tinggi, inflasi rendah, kendali defisit transaksi berjalan, serta kecukupan cadangan devisa nasional.

"Fundamental kita akan mendukung penguatan nilai tukar," ujar Perry.

Faktor ketiga berasal dari kebijakan ekspor satu pintu dan pengelolaan sumber daya alam melalui Danantara. Menurut Perry, kebijakan ini mampu mendongkrak penerimaan devisa hasil ekspor.

>>> Polisi Selidiki Kelalaian Pemilik Anjing Pemburu yang Tewaskan Bocah di Bogor

Peningkatan devisa berperan krusial dalam mendanai pembangunan nasional dan memperkokoh stabilitas nilai tukar rupiah secara berkelanjutan.

Faktor keempat adalah langkah intervensi pasar keuangan secara terkoordinasi antara pemerintah dan BI.

"Komitmen kuat untuk terus menjaga nilai tukar rupiah baik melalui intervensi maupun berbagai kebijakan lainnya," tegas Perry.

Faktor kelima adalah sinergi kebijakan fiskal dan moneter yang semakin erat. Implementasinya diwujudkan melalui skema peningkatan daya tarik imbal hasil investasi obligasi demi menjaga likuiditas dalam negeri.

"Yang kemarin kita sudah umumkan bersama bagaimana fiskal dan moneter sama-sama menjaga nilai tukar rupiah, yaitu meningkatkan daya tarik imbal hasil investasi obligasi dan juga menjaga kecukupan likuiditas," kata Perry.

Melalui perpaduan seluruh faktor tersebut, BI menyatakan keyakinan penuh bahwa performa rupiah akan mencatatkan tren positif pada periode tahun depan.

"Itu adalah nilai tukar.

>>> Gempa Magnitudo 7,8 di Filipina Selatan Tewaskan 37 Orang

Jadi lima faktor itu rupiah insya Allah tahun depan akan menguat, kisarannya Rp16.800 sampai Rp17.500," pungkas Perry.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru