Gempa tektonik berkekuatan magnitudo 7,8 mengguncang wilayah selatan Filipina pada Senin (08/06) pagi. Bencana ini mengakibatkan sedikitnya 37 orang meninggal dunia.
Tim penyelamat masih terus menyisir reruntuhan bangunan di Pulau Mindanao hingga Selasa (09/06). Mereka mencari korban yang mungkin terjebak di bawah puing.
>>> IHSG Menguat 7,57 Persen, Didorong Sentimen Pasar dan Suku Bunga
Gempa ini menjadi yang terkuat melanda Filipina dalam setengah abad terakhir. Kantor Pertahanan Sipil Filipina melaporkan hampir 500 orang luka-luka dan lebih dari 20.000 warga mengungsi.
Pusat gempa berada di lepas pantai Pulau Mindanao dengan kedalaman sekitar 33 kilometer. Lokasinya berjarak 32 kilometer di barat daya Kota Maasim, Provinsi Sarangani.
Pergerakan di Palung Cotabato teridentifikasi sebagai pemicu utama guncangan besar tersebut.
Kerusakan masif terjadi di beberapa titik, termasuk di General Santos City yang mencatat 13 korban jiwa akibat tertimpa puing.
Tanah longsor di kawasan pegunungan Kota Glan, Provinsi Sarangani, menimbun rumah-rumah warga dan menewaskan 18 orang.
Guncangan kuat juga memicu gelombang tsunami setinggi 1,4 meter yang merusak enam rumah panggung di desa pesisir.
Rambatan gelombang dengan skala lebih kecil dilaporkan mencapai perairan Indonesia, Palau, hingga Jepang.
Data awal menunjukkan kerusakan menimpa sekitar 2.000 rumah warga serta 117 gedung dan fasilitas negara.
>>> Stasiun JIS Siap Beroperasi Juni 2026, Permudah Akses ke Jakarta International Stadium
Bandara Internasional General Santos terpaksa ditutup sementara sehingga mengakibatkan pembatalan 63 penerbangan domestik.
Pemeriksaan ketat juga dilakukan pada sekitar 6.000 bangunan sekolah negeri di area terdampak sebelum aktivitas belajar mengajar dimulai kembali.
Insiden yang bertepatan dengan hari pertama masuk sekolah ini menyebabkan banyak siswa menjadi korban luka saat mengikuti upacara bendera.
Otoritas seismologi setempat menjelaskan bahwa karakteristik gempa ini serupa dengan peristiwa historis puluhan tahun lalu yang bersumber dari retakan bumi yang sama.
Respons Pemerintah dan Mitigasi
"Gempa tahun 1976 tersebut memicu tsunami besar," kata Teresito Bacolcol, Direktur Institut Vulkanologi dan Seismologi Filipina.
Tragedi pada 17 Agustus 1976 itu melepaskan gelombang tsunami setinggi 8 hingga 10 meter yang menyapu wilayah pesisir.
Hubungan sejarah ini menjadi acuan otoritas dalam mitigasi bencana di kawasan tersebut. Pemerintah pusat langsung merespons situasi darurat dengan mengirimkan tim bantuan logistik ke lokasi bencana.
>>> Andra Soni Integrasikan Pengelolaan Sumber Daya Air di Banten
Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. telah mengerahkan pejabat tinggi penanggulangan bencana dari Manila. Mereka memimpin langsung operasi pencarian dan penyelamatan.