⌂ Beranda News IHSG Menguat ke Level 5.746 Meski BI Naikkan Suku Bunga

IHSG Menguat ke Level 5.746 Meski BI Naikkan Suku Bunga

IHSG Menguat ke Level 5.746 Meski BI Naikkan Suku Bunga
Grafik IHSG menguat
A A Ukuran Teks16px

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melonjak sebesar 404,511 poin atau 7,57 persen ke level 5.746,648 pada penutupan perdagangan Selasa (9/6/2026).

Pemulihan ini terjadi setelah indeks sempat terpuruk akibat tekanan jual masif.

>>> Ketegangan Timur Tengah Pangkas Kunjungan Turis dan Paksa Hotel Dubai Banting Harga

Meskipun indeks berhasil keluar dari zona tekanan ekstrem melalui reli tajam tersebut, investor ritel dinilai masih menghadapi berbagai tantangan ekonomi domestik.

Kebijakan Bank Indonesia yang menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen menjadi salah satu risiko utama.

Dampak Kenaikan Suku Bunga

Langkah bank sentral yang diputuskan melalui Rapat Dewan Gubernur tersebut diambil demi mengendalikan tekanan inflasi dan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Namun, kebijakan ini berpotensi menekan permintaan kredit, memperlambat ekspansi usaha, serta menurunkan aktivitas konsumsi masyarakat yang saat ini daya belinya dinilai masih lemah.

Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menjelaskan bahwa lambatnya pertumbuhan ekonomi domestik dapat terjadi jika situasi tersebut terus bertahan.

Dampak negatif ini nantinya akan berimbas langsung pada kinerja emiten yang mengandalkan konsumsi rumah tangga.

>>> Piala Dunia 2026 Hadirkan Format Baru 48 Negara Peserta

“Jika kondisi ini berlangsung lebih lama, maka pertumbuhan ekonomi domestik dapat melambat dan berpengaruh terhadap kinerja emiten yang sangat bergantung pada konsumsi rumah tangga,” ujar Hendra Wardana.

Sektor perbankan yang menjadi penggerak utama IHSG juga turut menghadapi tantangan tersendiri akibat kebijakan makro ini.

Walaupun kenaikan suku bunga berpotensi memperlebar Net Interest Margin, keuntungan tersebut bisa tergerus jika kualitas kredit justru mengalami penurunan akibat potensi pembengkakan rasio kredit bermasalah.

“Dalam lingkungan suku bunga yang lebih tinggi, beban cicilan rumah tangga dan dunia usaha ikut meningkat.

Risiko gagal bayar dapat bertambah terutama pada segmen usaha kecil dan menengah serta debitur yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap konsumsi domestik,” papar Hendra Wardana.

Hingga saat ini kualitas aset perbankan besar terpantau masih relatif terjaga dengan baik.

>>> Imigrasi AS Tolak Masuk Wasit Piala Dunia Asal Somalia

Investor asing dilaporkan masih bersikap berhati-hati memantau dampak perlambatan ekonomi pada kuartal mendatang, meskipun pasar saat ini mulai menawarkan banyak saham blue chip berkualitas dengan harga diskon melalui strategi akumulasi bertahap.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru