⌂ Beranda News BI Kembali Naikkan Suku Bunga 25 bps, Rupiah Justru Tertekan

BI Kembali Naikkan Suku Bunga 25 bps, Rupiah Justru Tertekan

BI Kembali Naikkan Suku Bunga 25 bps, Rupiah Justru Tertekan
Ilustrasi pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang melemah
A A Ukuran Teks16px

Bank Indonesia (BI) kembali menaikkan suku bunga acuan pada Rapat Dewan Gubernur 9 Juni 2026. BI-Rate naik 25 basis poin menjadi 5,50 persen.

Ini merupakan kenaikan kedua dalam waktu kurang dari tiga pekan.

>>> Prabowo Panggil DEN dan Menkes ke Istana, Bahas Ekonomi dan Program Prioritas

Sebelumnya, pada 19–20 Mei 2026, BI menaikkan suku bunga secara agresif sebesar 50 basis poin dari 4,75 persen menjadi 5,25 persen.

Total kenaikan mencapai 75 basis poin dalam waktu singkat.

Langkah ini diambil untuk menahan arus modal keluar, memperkuat daya tarik aset rupiah, dan menjaga inflasi 2026–2027 tetap dalam sasaran 2,5 plus minus 1 persen.

Gubernur Perry Warjiyo menegaskan kebijakan ini sebagai respons terhadap gejolak geopolitik Timur Tengah yang mengguncang pasar global.

Secara teori, kenaikan suku bunga seharusnya menarik modal asing dan menguatkan mata uang.

Namun, yang terjadi justru sebaliknya.

Rupiah pada 8 Juni 2026 ditutup di level Rp 18.188 per dolar AS, titik terendah sepanjang sejarah.

Cadangan devisa turun lima bulan berturut-turut, dari 146,2 miliar dolar AS pada akhir April menjadi 144,9 miliar dolar AS per akhir Mei 2026.

Ini merupakan level terendah sejak Juni 2024.

Kepemilikan investor asing atas Surat Berharga Negara (SBN) menyusut menjadi hanya 12,62 persen per 2 Juni 2026, level terendah dalam hampir dua dekade.

Sementara itu, yield SBN tenor 10 tahun berada di kisaran 7 persen, bahkan sempat menembus 7,16 persen pada 8 Juni 2026.

Memang, pada hari yang sama pasar bereaksi positif: IHSG melonjak 7,52 persen dan rupiah menguat 130 poin ke Rp 18.058.

Namun, pola ini bukan hal baru.

Kenaikan 50 basis poin pada Mei 2026 menghasilkan respons serupa, sebelum rupiah kembali mencetak rekor terlemah keesokan harinya.

Euforia sesaat tidak cukup membalikkan arus modal yang sudah lama menjauh.

Country Risk Premium Mengalahkan Yield Premium

Investor asing tetap memilih keluar dari aset Indonesia meski imbal hasilnya sudah sangat tinggi. Ini bukan perilaku normal yang bisa dijelaskan semata oleh variabel suku bunga.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru