Presiden Cina Xi Jinping dan Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un telah memperkuat hubungan bilateral dan komunikasi strategis melalui pertemuan puncak di Pyongyang.
Pertemuan ini menandai upaya Beijing untuk menghidupkan kembali kemitraan strategisnya dengan Pyongyang, yang dinilai telah sedikit bergeser ke arah Moskow.
>>> Meksiko vs Afrika Selatan Buka Piala Dunia 2026, Mengulang Sejarah
Xi Jinping menyatakan bahwa arah perkembangan hubungan kedua negara kini semakin jelas dan terarah setelah pertemuan tersebut.
Pergeseran Fokus Pembicaraan
Kunjungan Xi Jinping ke Pyongyang ini menjadi momen penting bagi Cina untuk menegaskan kembali kemitraannya dengan Korea Utara.
Para pengamat menilai langkah ini bertujuan meredam dominasi pengaruh Rusia di Korea Utara yang semakin meningkat.
Fokus kemitraan kedua negara kini bergeser ke ranah geopolitik yang lebih luas, dengan isu denuklirisasi Semenanjung Korea tidak diangkat dalam laporan resmi.
Hal ini mengindikasikan bahwa Beijing mulai menoleransi program senjata nuklir Pyongyang demi menjaga solidaritas aliansi strategis.
Mantan Wakil Direktur Badan Intelijen Nasional Korea Selatan, Han Ki-bom, menyatakan bahwa pertemuan ini mengisyaratkan Beijing memandang Korea Utara sebagai mitra strategis dalam menghadapi tantangan internasional dan regional.
Pihak Korea Utara sendiri telah menegaskan statusnya sebagai negara nuklir yang tidak dapat diganggu gugat.
Sikap diam Beijing dalam pertemuan ini dianggap sebagai bentuk pembiaran terhadap realitas kekuatan militer baru di kawasan tersebut.
Dengan tidak lagi menekankan denuklirisasi, Beijing secara efektif menoleransi kenyataan program nuklir Korea Utara.
Mantan Wakil Menteri Unifikasi Korea Selatan, Kim Hyung Suk, menambahkan bahwa penghilangan isu denuklirisasi sengaja dilakukan untuk memperkuat narasi persatuan dan menunjukkan keharmonisan hubungan politik.
>>> Gubernur BI Optimistis Ekonomi Indonesia 2027 Tumbuh Lebih Tinggi
Keuntungan Strategis Timbal Balik
Penguatan aliansi militer antara Cina dan Korea Utara menawarkan keuntungan strategis yang timbal balik bagi kedua belah pihak.
Kemitraan militer yang solid dapat berfungsi sebagai instrumen penangkal kekuatan luar di wilayah Asia Timur.