Kenaikan harga Pertamax dan Pertamax Green 95 berpotensi memicu migrasi konsumen ke bahan bakar bersubsidi, yaitu Pertalite. Hal ini dikhawatirkan akan membengkakkan anggaran subsidi energi negara.
Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun menyatakan bahwa peralihan konsumsi ini sangat mungkin terjadi. "Pasti (pengguna bisa beralih ke Pertalite).
>>> Xi Jinping Perkuat Kerja Sama Strategis dengan Kim Jong Un
Begitu harga naik, orang kan mencari harga yang paling rendah," ujarnya kepada wartawan di Gedung DPR RI, Rabu (10/6/2026).
Dampak lonjakan harga Pertamax terhadap keuangan negara masih dalam tahap pengkajian mendalam oleh pihak terkait. "Untuk kalkulasinya, itu kan belum kita lakukan exercise-nya lebih dalam.
Sudah dilakukan penghitungan-penghitungan, nanti akan kita lihat dampaknya seperti apa," tutur Misbakhun.
Selain potensi membengkaknya anggaran subsidi, kebijakan penyesuaian tarif komoditas energi ini juga dipastikan akan memengaruhi laju inflasi nasional.
Dampak Inflasi dan Stimulus
Misbakhun menjelaskan bahwa kenaikan harga BBM biasanya selalu diikuti dengan kenaikan inflasi. Namun, besaran persentasenya masih belum dapat dipastikan.
Ia menambahkan bahwa Pertamax lebih banyak dikonsumsi oleh masyarakat, berbeda dengan BBM industri yang biasanya memberikan tekanan inflasi paling berat.
>>> Meksiko vs Afrika Selatan Buka Piala Dunia 2026, Mengulang Sejarah
"Yang biasanya memberikan tekanan paling berat itu kan adalah BBM industri," katanya.
Untuk meredam dampak ekonomi bagi konsumen, pemerintah sedang menggodok skema pemberian insentif. "Sudah didiskusikan, sedang lagi dilakukan upaya penghitungan apa yang nanti menjadi stimulus atau insentif," imbuh Misbakhun.
Pemerintah ingin memastikan kebutuhan masyarakat yang menggunakan Pertamax sebagai stimulus.
Sebelumnya, Pertamina Patra Niaga resmi menaikkan harga Pertamax dari Rp 12.300 per liter menjadi Rp 16.250 per liter.
Pertamax Green 95 naik dari Rp 12.900 per liter menjadi Rp 17.000 per liter.
>>> Gubernur BI Optimistis Ekonomi Indonesia 2027 Tumbuh Lebih Tinggi
Sementara itu, pemerintah tetap mempertahankan tarif BBM bersubsidi. Pertalite dipatok sebesar Rp 10.000 per liter dan Biosolar Rp 6.800 per liter.