Perhimpunan Peternak Rakyat Mandiri Indonesia (PERMINDO) meminta pemerintah, melalui Perum Bulog dan BUMN, untuk meningkatkan penyerapan ayam dari peternak rakyat.
Langkah ini diambil karena peternak ayam pedaging (broiler) menghadapi tekanan berat akibat merosotnya harga live bird yang jauh di bawah biaya pokok produksi.
>>> John Herdman: Timnas Indonesia Kini Jauh Lebih Berbahaya
Ketua Umum PERMINDO, Kusnan, menyatakan bahwa selain Kementerian Pertanian, pihaknya juga berharap adanya keterlibatan aktif dari Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Kementerian Perdagangan, Badan Pangan Nasional (Bapanas), Bulog, serta BUMN Pangan.
Tujuannya adalah untuk membangun sistem penyerapan dan distribusi yang lebih kuat.
Kusnan menilai mekanisme penyerapan ayam dan telur secara berkelanjutan perlu dibangun melalui Bulog atau BUMN Pangan.
Instrumen ini diharapkan dapat berfungsi sebagai stabilisator pasar, serupa dengan penyerapan gabah dan beras untuk menjaga kesejahteraan petani saat terjadi kelebihan pasokan.
Beban usaha peternak broiler saat ini sangat berat.
Kenaikan akumulatif harga pakan sepanjang tahun 2026 mencapai sekitar Rp 800 per kilogram, membuat harga pakan kini berkisar Rp 8.800 hingga Rp 9.400 per kilogram (loco pabrik).
Kenaikan biaya produksi juga dipicu oleh harga DOC final stock saat panen yang masih berkisar antara Rp 5.000 hingga Rp 6.000 per ekor.
Akibat kenaikan berbagai komponen biaya tersebut, Harga Pokok Produksi (HPP) broiler diperkirakan telah mencapai Rp 21.000 hingga Rp 22.000 per kilogram live bird.
Namun, harga live bird di pasar justru tertahan pada kisaran Rp 15.000 hingga Rp 16.000 per kilogram di wilayah Jabodetabek dan Banten.
Hal ini menyebabkan peternak rakyat menanggung kerugian sekitar Rp 5.000 hingga Rp 7.000 per kilogram live bird, atau sekitar Rp 10.000 hingga Rp 14.000 per ekor ayam panen dengan bobot 2 kilogram.
Situasi ini dikhawatirkan dapat mengikis modal kerja peternak dan memaksa banyak usaha budidaya gulung tikar.
Kusnan menekankan bahwa tantangan utama saat ini bukanlah kapasitas produksi, melainkan perluasan pasar untuk menyerap hasil produksi ayam dan telur nasional yang melimpah.