Firma riset pasar TrendForce merilis laporan terbaru mengenai jumlah produksi smartphone global. Selama kuartal I-2026 (Januari-Maret), total produksi mencapai 284 juta unit.
Jumlah ini tercatat mengalami penurunan sebesar 1,7 persen dibandingkan kuartal I-2025 secara year-on-year (YoY).
>>> IP Expo Indonesia 2026 Catat Pertumbuhan Skala Acara 40 Persen
Dari total produksi tersebut, terdapat enam vendor ponsel yang memproduksi smartphone baru dalam jumlah paling banyak secara global.
Enam Vendor Ponsel Terbesar
Samsung memproduksi 62,6 juta unit smartphone.
Dorongan produksi seri Galaxy S terbaru meningkatkan outputnya 7,6 persen dari kuartal sebelumnya dan 2,3 persen secara YoY.
Apple menempati posisi kedua dengan volume produksi sekitar 60,2 juta unit. Peluncuran model baru termasuk iPhone 17e mendorong total output tumbuh 19,7 persen YoY.
Oppo berada di peringkat ketiga dengan memproduksi sekitar 29,5 juta unit smartphone. Namun, Oppo kini menghadapi tekanan profitabilitas akibat lonjakan harga memori.
>>> Polsek Palmerah Tangkap Dua Pelajar Pembacok Siswa di Jakarta Barat
Xiaomi menduduki posisi keempat dengan total produksi mencapai 26 juta unit smartphone. Ketidakpastian biaya komponen berpotensi merevisi turun target produksi 2026.
Vivo menempati posisi kelima dengan memproduksi sekitar 22 juta unit smartphone. Vivo juga menghadapi tantangan peningkatan harga memori yang memangkas margin keuntungan.
Transsion, produsen merek Tecno, Infinix, dan Itel, berada di peringkat keenam. Perusahaan ini memproduksi sekitar 19,8 juta unit smartphone yang menyasar segmen entry-level di pasar negara berkembang.
Memasuki kuartal II-2026, TrendForce memproyeksikan produksi smartphone global akan anjlok sebesar 16,2 persen YoY. Penyebabnya adalah menipisnya stok memori lama serta lonjakan harga komponen memori yang tajam.
Untuk mengatasinya, vendor ponsel kelas flagship cenderung mempertahankan harga demi memperluas pangsa pasar.
>>> Veda Ega Pratama Kalahkan Pebalap Spanyol di Moto3 Catalunya
Sementara itu, vendor asal China di segmen menengah ke bawah mulai menerapkan rencana produksi yang lebih tradisional akibat tekanan biaya dan kompetisi ketat dari Huawei.