⌂ Beranda News Kenali 7 Kebiasaan Toksik Orangtua yang Picu Trauma Jangka Panjang pada Anak

Kenali 7 Kebiasaan Toksik Orangtua yang Picu Trauma Jangka Panjang pada Anak

Kenali 7 Kebiasaan Toksik Orangtua yang Picu Trauma Jangka Panjang pada Anak
Ilustrasi orangtua dan anak dalam situasi konflik emosional
A A Ukuran Teks16px

Kesalahan dalam mengasuh anak memang wajar, namun kebiasaan beracun yang terus berulang perlu segera dihentikan.

Pola asuh yang salah berpotensi memicu ketakutan, kecemasan, hingga trauma jangka panjang pada anak.

>>> Lengan Remaja Tertancap Pagar Besi Saat Mengejar Layangan di Cimahi

Psikolog Klinis Cynthia Edwards-Hawver, PsyD, menjelaskan bahwa ketidakdewasaan emosional orangtua, kebutuhan untuk mengontrol, atau ketidakmampuan mengatur emosi sendiri secara konsisten membahayakan rasa aman dan harga diri anak.

7 Kebiasaan Toksik yang Harus Dihentikan

Berikut adalah tujuh perilaku orangtua yang perlu dihindari demi kesehatan mental anak.

1. Memaksakan Kehendak Pilihan Hidup

Konselor Klinis Profesional Terdaftar Dawn Friedman mengungkapkan, sifat toksik yang sering ditemui adalah ketidakpahaman orangtua terhadap kebebasan anak.

Orangtua kerap lupa bahwa anak memiliki jalan dan tujuan hidupnya sendiri.

Anak perlu dibiarkan membuat kesalahan sendiri agar tumbuh lebih mandiri. Orangtua sebaiknya melepaskan kendali berlebih atas pilihan aktivitas seperti ekstrakurikuler.

2. Melibatkan Anak dalam Konflik

Terapis Danielle Dellaquila menjelaskan, pemaksaan ini umum terjadi akibat perceraian atau rumah tangga penuh konflik.

Orangtua perlu menghindari pelibatan anak dalam masalah mereka karena dapat menyebabkan kecemasan dan rasa bersalah yang tidak perlu.

3. Pengekangan yang Terlalu Ketat

Gaya pengasuhan terlalu protektif atau helicopter parenting justru memicu sifat pemberontak. Orangtua tipe ini ingin tahu setiap detail, mencoba mendikte masa depan anak, atau terlalu memantau.

Perilaku ini biasanya berakar dari kecemasan diri sendiri dan membuat anak menjauh.

>>> Polri Bagikan 550 Paket Baksos ke Pengemudi Ojek Online di Jakarta

4. Manipulasi Emosi dengan Rasa Bersalah

Psikolog Klinis Tirrell De Gannes, PsyD, menyebut memanfaatkan rasa bersalah anak sebagai perilaku toksik yang sering dianggap bimbingan.

Padahal, ini manipulasi agar anak patuh tanpa mengajarkan keterampilan hidup. Akibatnya, anak merasa tidak mampu membuat keputusan sendiri dan cenderung menutup diri.

5. Kegagalan Mengelola Emosi Diri

Sikap orangtua yang meledak-ledak, mendiamkan, atau menarik diri dapat menakuti anak. Menurut Edwards-Hawver, anak-anak membutuhkan konsistensi emosional untuk merasa aman dan mengembangkan keterampilan mengatasi masalah yang sehat.

6. Pelanggaran Batasan yang Sehat

Perkembangan anak terganggu akibat orangtua tidak menetapkan batasan sehat.

Terlalu banyak membagikan masalah pribadi, terlibat terlalu dalam, atau mengabaikan privasi membuat anak sangat bergantung dan kurang cakap.

Ruang pribadi yang tidak dihargai membuat anak enggan berkomunikasi.

7. Melampiaskan Amarah pada Anak

Kepribadian anak dapat terpuruk akibat orangtua terus-menerus menyalahkan mereka atas dampak lingkungan sosial. Perlakuan ini menanamkan persepsi bahwa keberadaan anak hanya membawa suasana buruk.

>>> Teleskop James Webb Temukan Bukti Kuat Keberadaan Bintang Pertama

Anak cenderung menginternalisasi perasaan tersebut hingga percaya dirinya sumber masalah.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru