Ritual sakral mekare-kare atau perang pandan kembali menjadi daya tarik utama di Desa Tenganan Pegringsingan, Kecamatan Manggis, Karangasem, Bali.
Ratusan warga serta wisatawan domestik dan mancanegara memadati lokasi untuk menyaksikan tradisi tahunan tersebut.
>>> BEM UI Akan Demo di Bundaran HI Jumat, Minta Turunkan Harga BBM
Para penonton rela berdesak-desakan demi melihat pertarungan menggunakan daun pandan berduri yang hanya digelar setahun sekali. Sejak siang hari, masyarakat sudah mulai berdatangan ke arena acara.
Sejumlah fotografer dari berbagai daerah dan wisatawan berebut posisi terdepan di sekitar arena. Mereka berusaha mendapatkan sudut pengambilan gambar terbaik sebelum tradisi dimulai.
Sebelum pertempuran, para pemuda dan pemudi asli Tenganan Pegringsingan sibuk menyiapkan perlengkapan. Daun pandan berduri disiapkan sebagai senjata utama, bersama perlengkapan ritual lainnya.
Saat perang pandan dimulai, penonton langsung membanjiri area pertunjukan. Beberapa membawa bangku sendiri atau digendong rekannya agar bisa melihat lebih jelas.
Made Dwipayana, penonton asal Kabupaten Badung, mengaku kagum setelah menyaksikan langsung tradisi ini. Ia melihat para peserta bertarung sungguhan hingga terluka.
"Saya sebenarnya sering ke sini sama tamu, tapi kalau untuk melihat tradisi perang pandan secara langsung baru pertama.
Ini karena anak saya yang ingin melihat langsung," kata Dwipayana, Rabu (10/6).
Penghormatan kepada Dewa Indra
Kelian Desa Adat Tenganan Pegringsingan, I Putu Yudiana, menjelaskan bahwa tradisi perang pandan digelar sebagai penghormatan kepada Dewa Indra, yang diyakini sebagai Dewa Perang.
Ritual ini rutin dilaksanakan setiap tahun dalam rangkaian Usaba Sambah.
Menurut kepercayaan masyarakat adat setempat yang menganut Hindu Dharma dalam sekaa Indra, pertempuran ini bukan untuk melawan musuh.
>>> Javier Aguirre Antisipasi Kejutan Afrika Selatan di Laga Pembuka Piala Dunia 2026
Tradisi ini merupakan simbol penghormatan dan tanggung jawab moral para remaja putra terhadap keluarga dan desa.
Prosesi diawali dengan para remaja putra dan putri berjalan naik ke puncak gunung di Desa Tenganan Pegringsingan pada pagi hari.