⌂ Beranda News Korea Selatan Percepat Penerapan AI Militer Senilai Rp 474 Miliar

Korea Selatan Percepat Penerapan AI Militer Senilai Rp 474 Miliar

Korea Selatan Percepat Penerapan AI Militer Senilai Rp 474 Miliar
Konsep AI militer Korea Selatan
A A Ukuran Teks16px

Korea Selatan mempercepat transformasi militer berbasis kecerdasan buatan (AI) sebagai respons terhadap krisis penyusutan angka kelahiran. Fenomena ini mengurangi jumlah pemuda usia produktif yang menjadi calon personel militer.

Pemerintah menyiapkan dana investasi sebesar 40 miliar won atau sekitar Rp 474 miliar. Langkah ini ditandai dengan peluncuran Proyek Dukungan Komersialisasi Cepat Aplikasi Kecerdasan Buatan.

>>> Manchester United Mundur dari Perburuan Elliot Anderson Akibat Harga Tinggi

Program tersebut dirancang untuk mengadopsi teknologi AI dari sektor sipil yang sudah matang agar dapat segera digunakan untuk kebutuhan militer.

Kebijakan ini merupakan bagian dari strategi besar mewujudkan konsep Smart Army.

Konsep militer modern ini mengandalkan sistem otomatisasi, teknologi tanpa awak, dan kecerdasan buatan untuk mengurangi ketergantungan pada personel manusia.

Pemerintah telah menetapkan 20 kategori penelitian dalam empat bidang utama.

Penerapan AI di Berbagai Sektor Militer

Di sektor dukungan tempur, teknologi AI akan memantau wilayah perbatasan, menggerakkan sistem pengintaian berbasis drone, serta mengoptimalkan platform pengambilan keputusan cepat.

Otoritas militer menargetkan sistem AI dapat mengambil alih atau membantu lebih dari 75% tugas penjagaan di garis depan.

Penerapan AI juga menyasar struktur kekuatan militer, mulai dari klasifikasi cepat prajurit terluka, manajemen logistik pintar, patroli barak otomatis, hingga deteksi kerusakan alat utama sistem persenjataan.

Efisiensi operasional menjadi sasaran optimasi, termasuk pengelolaan anggaran pertahanan, rantai pasok industri militer, dan penggunaan energi di fasilitas militer.

>>> Manchester United Bidik Mamadou Sangare dari RC Lens untuk Musim Panas 2026

Sektor keamanan siber juga menjadi fokus untuk mendeteksi serangan, mengidentifikasi penyusupan jaringan, memperkuat enkripsi, dan meningkatkan kemampuan perang siber modern.

Agenda modernisasi ini berada di bawah payung Defense Reform 4.0.

Fase awal proyek ditargetkan selesai pada akhir 2027. Selanjutnya, pemerintah berencana mendirikan sekitar 90 unit tempur berbasis AI sebelum tahun 2028.

Sebanyak 16 fasilitas latihan simulasi cerdas ditargetkan mulai beroperasi pada 2032.

Porsi anggaran teknologi AI dan sistem tanpa awak akan ditingkatkan dari 15% menjadi 20% dalam lima tahun ke depan.

Namun, sejumlah pengamat mengingatkan bahwa transisi ini menghadapi tantangan berat.

Anggaran 40 miliar won dianggap relatif kecil untuk dibagi ke dalam 20 kategori penelitian tingkat tinggi.

Faktor keamanan sistem AI di medan perang juga memicu kekhawatiran karena harus tahan terhadap serangan siber, gangguan sinyal, dan kondisi operasional ekstrem.

>>> Cara Cek Skor Piala Dunia 2026 Lewat HP Secara Real Time

Para pakar menilai teknologi AI dapat memitigasi dampak krisis populasi, namun dalam waktu dekat perannya masih sebatas pendukung prajurit, bukan menggantikan tentara manusia sepenuhnya.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru