⌂ Beranda News Pengamat Usulkan Pemisahan Kepemilikan Baterai untuk Dorong Motor Listrik

Pengamat Usulkan Pemisahan Kepemilikan Baterai untuk Dorong Motor Listrik

Pengamat Usulkan Pemisahan Kepemilikan Baterai untuk Dorong Motor Listrik
Ilustrasi motor listrik dengan baterai yang dapat dilepas
A A Ukuran Teks16px

Pemisahan kepemilikan kendaraan dan baterai dinilai menjadi solusi efektif untuk mempercepat adopsi sepeda motor listrik di Indonesia.

Langkah strategis ini dianggap mampu menekan harga jual awal kendaraan secara signifikan sehingga lebih terjangkau bagi masyarakat luas.

>>> Meksiko dan Korea Selatan Raih Kemenangan di Laga Perdana Grup A Piala Dunia 2026

Tingginya harga baterai serta ketidakpastian masa pakai selama ini menjadi hambatan utama calon pembeli untuk beralih dari kendaraan konvensional.

Pemilik bengkel motor listrik Dolland Motor Electric di Bekasi, Abdulah, mengungkapkan bahwa keraguan masyarakat umumnya bersumber dari masalah proteksi dan biaya perawatan baterai.

"Menurut saya, kalau mau mengejot ekosistem motor listrik saat ini supaya masif, banyak yang pakai, kan keterbatasannya itu masyarakat masih banyak yang maju-mundur," kata Abdulah.

Ia mengidentifikasi bahwa kecemasan konsumen berpusat pada risiko kerusakan dan mahalnya harga komponen penyimpan daya tersebut.

"Permasalahan baterai. Baterai kalau rusak gimana?

Baterai kalau begini, begitu, dan segala macam. Harganya mahal," ujarnya.

Sebagai solusi, ia mengusulkan pengambilalihan pengelolaan baterai oleh pemerintah agar beban biaya tidak langsung ditanggung pembeli kendaraan.

"Pandangan saya untuk mengejot ekosistem itu, baterai dipegang oleh pemerintah. Jadi tidak ada orang yang membeli motor listrik yang memiliki baterainya," kata Abdulah.

Melalui skema tersebut, pengguna kendaraan listrik cukup membayar pemakaian daya tanpa harus memiliki unit baterainya secara fisik.

"Sama seperti kita membeli bensin. Kita boleh pakai, tapi tidak boleh memiliki.

Jadi biaya motor listriknya pasti akan murah," ujarnya.

Sistem ini dinilai mirip dengan metode yang mulai diterapkan oleh produsen otomotif tertentu lewat program penyewaan.

>>> Bos Blueray Cargo Akui Suap PNS Bea Cukai Rp30 Miliar

"Seperti misalkan Polytron. Dia (konsumen) kan tidak memiliki baterai, walaupun ada pilihan untuk memiliki baterai.

Tapi biaya dengan memiliki Rp 27 juta, sewanya cuma Rp 16 juta," kata Abdulah.

Meskipun pengeluaran bulanan konsumen akan bertambah untuk biaya sewa, metode ini diklaim memberikan aspek kenyamanan yang lebih tinggi.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru