⌂ Beranda News Bukan Ideologi, Tekanan Karier Dorong Orang Biasa Jadi Pembunuh Nazi

Bukan Ideologi, Tekanan Karier Dorong Orang Biasa Jadi Pembunuh Nazi

Bukan Ideologi, Tekanan Karier Dorong Orang Biasa Jadi Pembunuh Nazi
Foto Waldemar Klingelhöfer di pengadilan kejahatan perang Nazi
A A Ukuran Teks16px

Sebuah foto dari pengadilan kejahatan perang pasca-Perang Dunia II memperlihatkan Waldemar Klingelhöfer, mantan penyanyi opera yang menjadi komandan SS.

Ia menatap kamera dengan tenang, tanpa penyesalan. Klingelhöfer dijatuhi hukuman mati atas kejahatan terhadap kemanusiaan.

>>> Dishub DKI Terapkan Rekayasa Lalu Lintas Akhir Pekan Ini

Sebelum bergabung dengan pasukan pembunuh Nazi, Klingelhöfer adalah seorang penyanyi opera di Kassel. Pada 1935, ia meninggalkan panggung untuk bekerja di Departemen Kebudayaan SD, badan intelijen Nazi.

Tugasnya menganalisis efektivitas propaganda Nazi.

Pada 1941, Klingelhöfer yang fasih berbahasa Rusia bergabung dengan Einsatzgruppe B sebagai penerjemah. Unit ini bertugas memusnahkan penduduk Yahudi di Eropa Timur.

Ia naik pangkat menjadi pemimpin unit penyerbu dan memerintahkan eksekusi massal.

Tekanan Karier sebagai Motivasi Utama

Selama ini, banyak peneliti berasumsi bahwa keyakinan ideologis menjadi pendorong utama pelaku kejahatan Nazi.

Daniel Goldhagen dalam bukunya "Hitler's Willing Executioners" berpendapat bahwa antisemitisme murni yang mengubah orang menjadi pembunuh.

Namun, perspektif lain muncul dari kajian ilmiah yang menekankan ambisi pribadi. Christian Göbel, ilmuwan politik di Hertie School Berlin, menyebut "tekanan karier" sebagai faktor penting.

Pandangan ini sejalan dengan pengamatan Hannah Arendt terhadap Adolf Eichmann, yang ia anggap sebagai birokrat biasa, bukan fanatik ideologi.

Göbel dan rekannya Adam Scharpf menemukan dukungan empiris dalam data militer Argentina. Mereka menganalisis ribuan data promosi, pangkat, dan pensiun personel militer sejak 1870.

Pola yang muncul: semakin buruk kinerja seorang perwira, semakin besar kemungkinan ia bergabung dengan polisi rahasia.

Polisi rahasia Argentina dipenuhi perwira berkinerja buruk. Dengan menyiksa dan membunuh atas nama rezim, mereka membuktikan diri dan memajukan karier.

>>> Yamaha Naikkan Harga Motor dan Suku Cadang Akibat Rupiah Melemah

"Mereka seringkali adalah orang-orang yang telah ditolak oleh sistem," ujar Göbel.

Sisi Gelap Meritokrasi

Ketertarikan peneliti dipicu komentar bahwa polisi rahasia Argentina dipenuhi "orang-orang bodoh". Awalnya Scharpf mengira itu hinaan, namun diskusi dengan Göbel memicu kecurigaan.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru