Kenaikan harga Pertamax sebesar Rp 3.950 per liter menjadi Rp 16.250 memicu perpindahan konsumen ke Pertalite.
Antrean panjang kendaraan terlihat di sejumlah SPBU sejak Rabu, 10 Juni 2026.
>>> Pengadilan Korea Selatan Tambah Hukuman 30 Tahun Penjara untuk Yoon Suk Yeol
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengakui potensi pergeseran konsumsi tersebut. Namun, pemerintah belum menghitung total volume perpindahan maupun dampak finansialnya terhadap subsidi energi.
"Kita enggak hitung, tapi begini. Pasti ada berapa persen yang pindah," kata Purbaya.
Ia meyakini tidak semua pengguna Pertamax akan beralih karena karakteristik kendaraan yang cocok dengan bahan bakar tersebut.
Proyeksi mendalam mengenai perpindahan ini belum disusun Kementerian Keuangan. Purbaya menyarankan untuk menanyakan hal tersebut kepada Menteri ESDM Bahlil Lahadalia.
Dari sisi makroekonomi, Purbaya memperkirakan dampak kenaikan Pertamax terhadap inflasi nasional relatif minim. Sebab, Pertamax tidak digunakan untuk angkutan barang.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengonfirmasi bahwa penyesuaian harga ini mengikuti perkembangan pasar global. "Harga yang nonsubsidi itu menyesuaikan dengan harga pasar yang ada," ujarnya.
Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri menyatakan bahwa penguatan harga minyak dunia akibat dinamika geopolitik menjadi landasan penyesuaian setelah tiga bulan ditahan.
Di lapangan, sopir angkutan kota di Bogor, Dayat, menyaksikan lonjakan antrean kendaraan roda empat di jalur Pertalite.
>>> 5 Tanda Samar Seseorang Diam-Diam Menyukai Anda
"Biasanya mobil pribadi hanya beberapa saja, hari ini banyak yang ikut antre karena Pertamax mahal," katanya.
Ketua Wadah Komunikasi Antar Driver Aktif (Wakanda) Yogyakarta, Rie Rahmawati, khawatir antrean panjang akan menurunkan produktivitas pengemudi ojek daring.
"Itu menyita waktu dan sangat berpengaruh terhadap kinerja ojol," ujarnya.
Pengamat Ekonomi Universitas Andalas Syarifudin Karimi menilai selisih harga yang lebar menjadi insentif bagi konsumen rasional untuk beralih.
"Potensi migrasi cukup besar karena selisih harga melebar tajam," katanya.
Syarifudin memproyeksikan perpindahan konsumsi 25 hingga 50 persen dapat menambah volume Pertalite sebesar 1,8 juta hingga 3,6 juta kiloliter per tahun.
Hal ini berpotensi menambah beban APBN hingga puluhan triliun rupiah.
Kepala Pusat Makroekonomi Indef M Rizal Taufikurahman juga khawatir kuota Pertalite 2026 sebesar 29,27 juta kiloliter bisa jebol.
>>> Virgil van Dijk Tak Khawatir Cuaca Panas Ekstrem AS di Piala Dunia 2026
Hingga Maret 2026, realisasi konsumsi telah mencapai 6,88 juta kiloliter atau 23,52 persen dari pagu tahunan.