Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan ketangguhan perekonomian Indonesia di tengah situasi global yang tidak menentu.
Pernyataan itu disampaikan dalam acara peluncuran laporan Indonesia Economic Prospects edisi Juni 2026 pada Jumat (12/6/2026).
>>> Erick Thohir Targetkan Timnas Indonesia Tembus Peringkat 100 Besar FIFA
Sektor domestik menjadi motor penggerak utama pertumbuhan ekonomi.
Produk domestik bruto (PDB) nasional mencatat kenaikan 5,61 persen secara tahunan (yoy) pada triwulan pertama tahun ini.
Akselerasi belanja pemerintah, realisasi investasi, penguatan daya beli masyarakat, dan geliat sektor industri manufaktur menjadi faktor penentu.
"Pemerintah terus menerapkan kebijakan fiskal yang prudent namun tetap bersifat countercyclical guna menjaga stabilitas ekonomi dan daya beli masyarakat," ujar Airlangga.
Reformasi subsidi juga terus dilanjutkan melalui peningkatan ketepatan sasaran penerima manfaat.
Sejumlah data makroekonomi lain turut memperkuat posisi Indonesia, termasuk laju inflasi yang terkendali pada angka 3,08 persen.
Neraca perdagangan nasional sukses mempertahankan surplus selama 72 bulan berturut-turut. Posisi cadangan devisa mencapai 144,9 miliar dollar Amerika Serikat.
Kondisi pasar tenaga kerja juga membaik.
Angka pengangguran terbuka turun menjadi 4,68 persen, ditopang penciptaan 1,9 juta lapangan kerja baru dalam setahun terakhir.
Realisasi investasi triwulan I-2026 menyentuh Rp 498,79 triliun atau tumbuh 7,22 persen secara tahunan.
>>> LG Electronics Indonesia Luncurkan TV Premium dengan AI Personal dan Layar Micro RGB
Investasi itu menyerap 706.569 tenaga kerja, meningkat 18,93 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Sektor hilirisasi dan ekspansi korporasi teknologi penyedia data center skala besar (hyperscaler) global memperkokoh posisi Indonesia sebagai pusat gravitasi ekonomi digital di Asia Tenggara.
Pemerintah menerapkan kewajiban retensi devisa hasil ekspor (DHE) nonmigas sebesar 100 persen di dalam negeri selama 12 bulan.
Langkah preventif lain meliputi perluasan transaksi mata uang lokal (Local Currency Transaction/LCT) dan pengetatan koordinasi dengan Bank Indonesia serta Otoritas Jasa Keuangan.
Target pertumbuhan ekonomi ke depan masih penuh tantangan.
Pemerintah menetapkan target 5,4 persen untuk tahun 2026 dan kisaran 5,8 hingga 6,5 persen pada 2027.
Akselerasi menuju target jangka panjang 8 persen direspon dengan pembentukan Satuan Tugas Percepatan Program Pemerintah.
"Langkah-langkah awal yang cepat membuahkan hasil meliputi penyederhanaan persetujuan impor, standardisasi proses perizinan usaha, dan percepatan proyek investasi strategis," kata Airlangga.
Perluasan pasar ekspor luar negeri digenjot melalui percepatan penyelesaian kemitraan ekonomi komprehensif internasional.
>>> Bea Cukai Gagalkan Peredaran 8,26 Juta Batang Rokok Ilegal di Merak
Perundingan yang berjalan mencakup IEU-CEPA dengan Uni Eropa, Indonesia-Kanada CEPA, I-EAEU FTA dengan Uni Ekonomi Eurasia, negosiasi tarif dengan Amerika Serikat, persiapan Indonesia-United Kingdom CEPA, serta proses aksesi ke OECD.