Arus investasi asing yang masuk ke berbagai instrumen keuangan domestik memicu penguatan nilai tukar rupiah. Fenomena ini tercatat setelah Bank Indonesia meningkatkan suku bunga acuannya.
Nilai tukar rupiah pada Jumat (12/6/2026) berakhir di posisi Rp 17.865 per dollar Amerika Serikat (AS).
>>> Zaki Ubaidillah Lolos ke Semifinal Australian Open 2026
Angka tersebut menunjukkan penguatan sebesar 0,84 persen dari penutupan pada 5 Juni 2026 yang berada di angka Rp 18.010 per dollar AS.
Bank Indonesia telah menaikkan BI rate menjadi 5,50 persen pada 9 Juni lalu.
Kebijakan moneter ini menjadi daya tarik utama bagi masuknya dana dari luar negeri ke pasar keuangan nasional.
Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menilai bahwa apresiasi nilai tukar ini menjadi indikator kepercayaan pelaku pasar terhadap langkah yang diambil bank sentral.
Selain mengerek suku bunga acuan, otoritas moneter juga menerapkan sejumlah strategi pendukung.
Langkah tersebut meliputi penguatan struktur suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan penyediaan insentif hedging swap bagi para investor luar negeri.
Otoritas juga membuka akses repo untuk menjaga likuiditas sektor perbankan. Mereka juga mengintensifkan operasi moneter baik dalam mata uang rupiah maupun valuta asing (valas).
"Perkembangan ini mencerminkan respons positif pasar terhadap bauran kebijakan BI. Langkah-langkah tersebut juga didukung oleh sinergi yang erat antara BI dan pemerintah," ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat.
Rincian Aliran Dana Masuk
Penambahan modal dari luar negeri terpantau bergerak positif setelah penyesuaian BI rate. Minat yang tinggi dari investor global terlihat pada instrumen Surat Berharga Negara (SBN) serta SRBI.
Data per 10 Juni 2026 menunjukkan arus modal masuk dari investor nonresiden ke dalam instrumen SRBI menyentuh angka Rp 15,11 triliun.
>>> BB TNBTS Sewakan Aset Jembatan Kaca Bromo ke Pihak Swasta
Di sisi lain, SBN mengantongi aliran dana sebesar Rp 3,91 triliun pada 11 Juni 2026.
Daya tarik pasar domestik juga terlihat melalui penerbitan perdana obligasi internasional Danantara. Instrumen keuangan ini berhasil mengumpulkan pendanaan senilai Rp 26,9 triliun.