Pasar keuangan global juga menantikan rencana IPO dari OpenAI dan Anthropic tahun ini, yang valuasinya diperkirakan mendekati angka 1 triliun dollar AS.
Kondisi ini memberikan alternatif investasi baru berskala besar bagi manajer investasi global, sehingga sebagian besar likuiditas diprediksi akan tetap bertahan di pasar Amerika Serikat dibandingkan mengalir ke negara berkembang.
Tren teknologi kecerdasan buatan masih berlanjut, sementara narasi investasi di Indonesia masih berpusat pada sektor perbankan, komoditas, konsumsi, dan proyek hilirisasi.
Sentimen kedua yang menahan modal asing adalah pelaksanaan Piala Dunia 2026 di Amerika Utara.
Turnamen ini diperkirakan memicu perputaran dana besar di sektor hiburan global, dengan perkiraan taruhan legal global mencapai 60 miliar dollar AS, atau 71 persen lebih tinggi dari Piala Dunia 2022.
Perputaran dana global tersebut dikhawatirkan memicu kebocoran likuiditas domestik yang seharusnya dapat terserap ke sektor konsumsi rumah tangga maupun instrumen investasi produktif di dalam negeri.
Nilai ini setara 40-70 persen dari total foreign net sell IHSG sepanjang tahun.
Faktor penunda ketiga datang dari aksi unjuk rasa mahasiswa di beberapa titik kota yang diperkirakan diikuti 1.500 orang.
Meskipun mungkin tidak berdampak langsung pada fundamental ekonomi, kemunculan isu stabilitas sosial-politik dalam kondisi kepercayaan investor yang belum pulih sepenuhnya, berpotensi memperkuat sikap wait-and-see investor asing terhadap Indonesia.
SpaceX, Piala Dunia, dan demo mahasiswa bukanlah ancaman utama foreign outflow Indonesia, melainkan alasan tambahan bagi investor untuk menunggu.
Sebelumnya, fenomena penarikan dana massal oleh investor asing dinilai mencerminkan penurunan tingkat kepercayaan terhadap kepastian regulasi dan kebijakan di dalam negeri.
Investment Specialist KISI Sekuritas, Ahmad Faris Mu’tashim, menyampaikan bahwa faktor internal memegang peran lebih dominan dibandingkan faktor eksternal global.
Mayoritas program pemerintah sebenarnya memiliki tujuan baik untuk perekonomian, namun kendala muncul akibat pola komunikasi publik yang kurang efektif.
>>> Kejagung Periksa Bankir Maybank Terkait Kasus Ekspor Minyak Sawit
Hal ini membuat pelaku pasar kesulitan memetakan arah dan tujuan akhir kebijakan yang dikeluarkan, sehingga menimbulkan kekhawatiran.