Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan pemulihan signifikan, menguat lebih dari 12 persen dari titik terendah tahun ini di level 5.317.
Penguatan ini berhasil membawa indeks kembali menembus level 6.000.
>>> Prasasti Center: Kondisi Fiskal Indonesia Tetap Aman di Tengah Tantangan Global
Menariknya, pemulihan pasar modal dalam negeri ini mayoritas digerakkan oleh investor domestik.
Hal ini terlihat dari aksi jual bersih atau net sell investor asing yang masih tercatat hampir Rp 80 triliun sepanjang tahun berjalan (year to date/ytd).
Head of Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata, menjelaskan bahwa premi risiko (risk premium) Indonesia saat ini belum berada pada posisi normal.
Pemodal global masih menuntut imbal hasil tambahan yang lebih tinggi akibat kombinasi pelemahan nilai tukar rupiah, kekhawatiran fiskal, ketidakpastian kebijakan, serta isu tata kelola dan kredibilitas pasar modal.
Meskipun beberapa sentimen mulai membaik, pasar masih menunggu bukti nyata bahwa risiko-risiko tersebut benar-benar mereda.
Akar persoalan utama tetap pada tingginya risk premium Indonesia yang dipicu oleh pelemahan rupiah, ketidakpastian kebijakan, serta kekhawatiran fiskal dan tata kelola.
Kabar baiknya, sebagian faktor yang memicu kepanikan pasar beberapa waktu lalu mulai menunjukkan tanda-tanda perbaikan.
Stabilitas rupiah kini bergerak di bawah Rp 18.000 per dolar AS setelah Bank Indonesia menaikkan BI Rate sebesar 75 basis poin menjadi 5,50 persen.
Sentimen positif lain juga datang dari meredanya tensi geopolitik global serta koordinasi regulator yang semakin solid.
Di sisi lain, valuasi pasar saham Indonesia dinilai kembali ke area yang menarik secara historis di kisaran 13 hingga 14 kali Price to Earning (PE), menawarkan diskon di tengah berbagai ketidakpastian.
Secara struktural, Indonesia tetap masuk dalam kelompok "Fabulous Five" di kawasan ASEAN bersama Malaysia, Thailand, Filipina, dan Vietnam.
Kelompok negara ini diproyeksikan menjadi tujuan utama aliran modal global dalam 10 hingga 20 tahun mendatang.
Potensi jangka panjang Indonesia ditopang oleh jumlah populasi yang mencapai hampir 300 juta jiwa, kepemilikan sumber daya alam strategis, serta status sebagai pasar domestik terbesar di Asia Tenggara.