⌂ Beranda News IHSG Rebound ke 6.000, Investor Domestik Topang Penguatan di Tengah Net Sell Asing

IHSG Rebound ke 6.000, Investor Domestik Topang Penguatan di Tengah Net Sell Asing

IHSG Rebound ke 6.000, Investor Domestik Topang Penguatan di Tengah Net Sell Asing
Grafik pergerakan IHSG di bursa saham Indonesia
A A Ukuran Teks16px

Liza menilai, potensi perpindahan dari fase aksi jual menjadi akumulasi beli akan terbuka lebar seiring berlanjutnya stabilisasi rupiah, terjaganya risiko fiskal, dan meningkatnya konsistensi kebijakan pemerintah.

Peluang terbesar dalam investasi sering kali muncul bukan ketika semua orang sudah yakin, melainkan ketika fundamental jangka panjang masih utuh tetapi kepercayaan jangka pendek belum sepenuhnya pulih.

Meskipun arus modal keluar investor asing masih berjalan, kondisi tersebut tidak serta-merta menggagalkan potensi terbentuknya titik terendah pasar (market bottom).

Berdasarkan data historis pada tiga dari empat krisis besar terdahulu (2008, 2013, 2015, dan 2020), IHSG tercatat sudah menguat mendahului pergerakan investor asing dengan kenaikan sekitar 15 hingga 56 persen sebelum dana asing berbalik masuk.

Bahkan saat krisis pandemi, investor asing masih mencatatkan penjualan bersih kumulatif berkisar Rp 27 triliun pada tahun pertama fase pemulihan ekonomi.

Ini menunjukkan bahwa absennya foreign inflow bukanlah alasan yang cukup untuk menolak kemungkinan pasar sedang dalam fase awal pembentukan pemulihan, meskipun perjalanannya masih akan bergejolak.

>>> Simulasi Angsuran KUR BRI Pinjaman Rp 20 Juta dan Persyaratan Terbaru

Pelaku pasar saat ini mengantisipasi beberapa katalis penting yang akan rilis dalam dua minggu ke depan, meliputi Morgan Stanley Capital International (MSCI) Market Accessibility Review pada 19 Juni 2026 dan Financial Times Stock Exchange (FTSE) Russell Rebalancing pada 22 Juni 2026.

Munculnya sinyal yang lebih konstruktif terkait akses pasar dan tata kelola diperkirakan dapat memicu kembalinya dana asing secara resmi dan terukur ke bursa domestik.

Sebagian smart money mungkin telah mulai melakukan positioning lebih awal sebelum keputusan tersebut diumumkan secara publik.

Selain faktor domestik, terdapat tiga sentimen eksternal yang diproyeksikan menunda kembalinya aliran dana global ke pasar keuangan Indonesia.

Ketiga faktor penunda tersebut adalah langkah go public atau IPO SpaceX, perhelaran Piala Dunia 2026, serta aksi demonstrasi mahasiswa.

Aksi korporasi penawaran umum perdana saham SpaceX menjadi pesaing berat dalam menyerap likuiditas global, berhasil mengumpulkan dana sebesar 75 miliar dollar AS atau setara Rp 1.343,5 triliun dengan valuasi perusahaan mencapai 1,77 triliun dollar AS.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru