⌂ Beranda News Mahalnya Harga Sebuah Kepercayaan di Sektor Keuangan

Mahalnya Harga Sebuah Kepercayaan di Sektor Keuangan

Mahalnya Harga Sebuah Kepercayaan di Sektor Keuangan
Ilustrasi krisis kepercayaan di sektor keuangan negara berkembang
A A Ukuran Teks16px

Kepercayaan adalah aset yang mahal, terutama di sektor keuangan negara berkembang.

Ketika pasar kehilangan kepercayaan, gejalanya cepat terlihat: mata uang melemah, imbal hasil obligasi naik, indeks saham goyah, dan investor asing menarik dananya.

>>> Polisi Kejar Fortuner Putih yang Diamuk Massa di Ciledug, Ternyata Pelaku Narkoba

Turki: Kebijakan yang Sulit Ditebak

Turki pernah mengalami krisis kepercayaan sejak 2018. Lira jatuh tajam karena investor meragukan independensi bank sentral.

Pada 2021, inflasi tinggi namun suku bunga justru dipangkas. Pasar membaca arah kebijakan ekonomi Turki sulit ditebak.

Sejak pertengahan 2023, Turki kembali ke kebijakan ortodoks. Suku bunga naik dari 8,5 persen pada Mei 2023 menjadi 50 persen pada Maret 2024.

Namun kepercayaan tidak langsung pulih.

Pada Juni 2026, suku bunga masih ditahan di 37 persen, sementara inflasi sekitar 32,6 persen secara tahunan.

Argentina: Siklus yang Berulang

Argentina akrab dengan siklus kehilangan dan membangun kembali kepercayaan.

Pada 2018, peso kehilangan lebih dari separuh nilainya, dan Argentina memperoleh program IMF senilai 50 miliar dolar AS.

Kini di bawah Javier Milei, Argentina membangun ulang kredibilitas lewat disiplin fiskal dan reformasi. Sentimen membaik, dengan country risk turun ke 498 basis poin pada Mei 2026.

Pasar mulai memberi ruang, tetapi belum sepenuhnya percaya.

Sri Lanka: Krisis Sosial Akibat Salah Urus

Sri Lanka memberikan pelajaran pahit. Kombinasi salah urus fiskal, pemotongan pajak besar pada 2019, pandemi, dan menipisnya devisa membuat ekonomi rapuh.

Pada 2022, krisis ekonomi berubah menjadi krisis sosial: bahan bakar langka, obat-obatan sulit, dan antrean menjadi pemandangan harian.

Negara itu menangguhkan pembayaran utang luar negeri pada April 2022 dan default pada Mei 2022.

>>> Robot Polisi AI Mulai Atur Lalu Lintas di China Timur

Setelah masuk program IMF, kondisi mulai membaik. Ekonomi tumbuh 5 persen pada 2024 dan 2025.

Namun IMF mengingatkan bahwa Sri Lanka tidak memiliki ruang untuk kesalahan kebijakan.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru