Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam sepekan ke depan hanya akan berlangsung selama empat hari perdagangan. Hal ini disebabkan oleh libur Tahun Baru Islam 1448 Hijriah.
Meskipun waktu perdagangan lebih pendek, pelaku pasar tetap perlu mencermati sejumlah rilis data ekonomi penting.
>>> Ousmane Dembele Yakin Messi Mampu Pimpin Argentina Juara Piala Dunia 2026
Salah satunya adalah data Industrial Production China yang menjadi indikator pemulihan ekonomi dan aktivitas manufaktur negara tersebut.
Data China dinilai krusial bagi perekonomian Indonesia. Pasalnya, China merupakan mitra dagang utama sekaligus tujuan ekspor nonmigas terbesar Indonesia.
Dari Jepang, perhatian investor akan tertuju pada keputusan suku bunga Bank of Japan (BoJ).
BoJ diperkirakan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 1,00 persen dari sebelumnya 0,75 persen.
Selain suku bunga, pelaku pasar juga akan mencermati data inflasi Jepang. Data tersebut dapat memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan moneter selanjutnya.
Ekspektasi sikap hawkish dari BoJ didorong oleh meningkatnya risiko inflasi domestik. Lonjakan harga energi global akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi pemicunya.
Jika BoJ kembali menaikkan suku bunga atau memberikan sinyal pengetatan moneter yang lebih agresif, investor berpotensi menutup posisi carry trade.
Kondisi tersebut dapat memicu volatilitas tinggi di pasar keuangan global, termasuk di pasar negara berkembang seperti Indonesia.
Analisis Teknikal IHSG
Dari sisi teknikal, Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Imam Gunadi, menilai IHSG masih bergerak dalam tren turun (downtrend).
Hal ini terlihat dari struktur pergerakan indeks yang masih membentuk pola lower low (LL) dan lower high (LH).
Meski demikian, penurunan IHSG dari titik tertingginya hingga pekan lalu berpotensi telah membentuk lima gelombang (impulsive wave). Dengan demikian, tekanan tren turun diperkirakan mulai mereda.
“Dalam time horizon yang lebih pendek atau sejak pertengahan April, pergerakan IHSG membentuk pola extension dan berpotensi telah menyelesaikan lima gelombang.
Skenario ini akan terkonfirmasi apabila IHSG berhasil menembus level resistance di 6.286,” ujar Imam dalam keterangan pers, Senin (15/6/2026).