⌂ Beranda News Mengapa Banyak Pengguna Mengucapkan Tolong dan Terima Kasih ke ChatGPT

Mengapa Banyak Pengguna Mengucapkan Tolong dan Terima Kasih ke ChatGPT

Mengapa Banyak Pengguna Mengucapkan Tolong dan Terima Kasih ke ChatGPT
Pengguna mengetik tolong dan terima kasih ke ChatGPT
A A Ukuran Teks16px

Banyak pengguna tanpa sadar sering mengetik kata "tolong" dan "terima kasih" saat berinteraksi dengan ChatGPT. Kebiasaan ini terasa wajar karena chatbot AI kerap membalas dengan gaya bahasa yang ramah layaknya rekan kerja.

Chatbot AI kini semakin menjadi bagian dari keseharian untuk menulis e-mail, merangkum rapat, hingga membantu riset.

>>> Qatar Raih Poin Perdana di Piala Dunia Usai Tahan Imbang Swiss

Survei dari Future menemukan sekitar 70 persen orang bersikap sopan saat berbicara dengan AI.

Namun, para pengkritik menilai tambahan kata tersebut hanya menghabiskan token, daya komputasi, dan energi. Sikap ini juga dinilai mendorong manusia memproyeksikan perasaan pada sistem yang sebenarnya tidak memilikinya.

Dampak Kesopanan pada Respons AI

Riset awal menunjukkan bahwa prompt yang sopan cenderung menghasilkan jawaban yang lebih cermat, rinci, dan seimbang. Sebaliknya, prompt yang kasar atau ketus terkadang menghasilkan jawaban yang lebih pendek.

Model AI dilatih dari bahasa manusia dalam jumlah sangat besar. Dalam percakapan manusia, permintaan yang sopan biasanya muncul dalam konteks ketika orang memberi jawaban yang lebih hati-hati.

Mesin tidak benar-benar menghargai kesopanan, tetapi pilihan kata tetap memengaruhi gaya dan kualitas jawaban. Riset dari Forbes menyebut memuji AI sebagai "pintar" dapat mendorongnya berpikir lebih lama.

Microsoft juga menyarankan agar pengguna bersikap sopan kepada Copilot untuk mendapat hasil yang lebih kolaboratif.

Nada bicara ini sekadar menjadi bagian dari instruksi untuk memberikan gambaran jawaban yang diinginkan.

Ada pula alasan yang berkaitan dengan diri pengguna sendiri. Kebiasaan melontarkan perintah ketus kepada sistem dikhawatirkan terbawa hingga membuat manusia kurang sopan dalam percakapan dengan sesama.

Argumen Tidak Perlu Bersikap Sopan ke AI

Argumen sebaliknya menilai AI pada dasarnya adalah alat, dan memperlakukannya seperti manusia bisa mengaburkan batas hubungan. Chatbot tetaplah perangkat lunak yang memproses data dan tidak memahami kesopanan.

Saat memperlakukan AI seolah layak diberi sopan santun, pengguna berisiko memproyeksikan kesadaran pada sistem.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru