Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral bersama Dewan Energi Nasional memastikan keandalan pasokan listrik dan ketersediaan batu bara untuk sistem kelistrikan Jawa-Madura-Bali dalam kondisi aman pada Juni 2026.
Langkah penanganan dan peninjauan langsung dilakukan pemerintah setelah menerima keluhan pemadaman listrik dari kalangan pengusaha kawasan industri di sejumlah wilayah Pulau Jawa.
>>> Brasil Ditahan Imbang Maroko di Laga Perdana Piala Dunia 2026
Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM Ahmad Erani Yustika menegaskan bahwa koordinasi rutin dengan PT PLN (Persero) terus berjalan untuk memastikan pasokan energi bagi pembangkit listrik tidak menghadapi kendala berarti.
"Hari kemarin juga ada pertemuan kan Pak Menteri dengan PLN. Hari ini kayaknya Pak Dirjen juga lagi ada rapat dengan direksinya (PLN).
Secara umum sih nggak ada, seharusnya nggak ada. Kan sudah di, sejak awal sudah diputuskan berapa kebutuhan PLN batu baranya," kata Erani.
Menurut Erani, situasi saat ini berbeda dan tidak mengarah pada krisis pasokan bahan bakar kritis seperti yang pernah terjadi pada Januari 2022 silam.
"Nggak Insyaallah nggak. Pak Menteri kemarin kan sudah menyampaikan pernyataan kan," kata Erani.
Koordinasi lanjutan terus dilakukan melalui Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan untuk memantau perkembangan teknis di lapangan.
"Hari ini katanya ada rapat lagi Pak Dirjen Gatrik dengan PLN," ujar Erani.
Peninjauan Langsung ke PLTU Cirebon Expansion
Dewan Energi Nasional melakukan peninjauan langsung ke PLTU Cirebon Expansion berkapasitas 1.000 megawatt pada Sabtu (13/6/2026) guna merespons tantangan ketersediaan daya di sistem Jamali.
"Kami ingin memastikan pasokan listrik tetap terjaga serta mengidentifikasi secara langsung apabila terdapat kendala yang perlu mendapat perhatian," kata Anggota Pemangku Kepentingan DEN Muhammad Kholid Syeirazi.
Kholid menjelaskan bahwa pembangkit berbasis batu bara masih menyokong lebih dari 60 persen sistem ketenagalistrikan nasional, meskipun target bauran energi baru terbarukan akan terus ditingkatkan.
"Saat ini porsi EBT dalam bauran pembangkit masih sekitar 15,6%. Ke depan, kami mendorong agar komposisi pembangkit tidak lagi didominasi energi fosil.