⌂ Beranda News Banyak Pemimpin Gagal Hadapi Tekanan Kerja Akibat Pola Lama

Banyak Pemimpin Gagal Hadapi Tekanan Kerja Akibat Pola Lama

Banyak Pemimpin Gagal Hadapi Tekanan Kerja Akibat Pola Lama
Pemimpin yang stres menghadapi tekanan kerja
A A Ukuran Teks16px

Tekanan di lingkungan kerja sering menjadi ujian kapasitas seorang pemimpin. Kegagalan yang terjadi biasanya bukan karena minimnya keahlian atau pengalaman baru.

Ketika berada di bawah tekanan tinggi, banyak pemimpin cenderung mengulangi pola lama yang pernah berhasil di masa lalu.

>>> Polres Bogor Siapkan One Way di Jalur Puncak Besok

Padahal, pendekatan tersebut belum tentu sesuai dengan konteks tantangan saat ini.

Hal ini dibahas dalam workshop kepemimpinan hasil kolaborasi jaringan perempuan profesional IGNITE bersama The Art of Triumph. Agenda tersebut mengupas dampak stres terhadap proses pengambilan keputusan.

Empat Tahap Mengidentifikasi Pola Respons

Senior Manager of Client Engagement, Marketing, and Social Impact Kearney Indonesia sekaligus mentee IGNITE, Lea Dwiartanti, memaparkan hasil riset dari Center for Creative Leadership.

Riset itu membuktikan bahwa kegagalan kepemimpinan jarang dipicu oleh kelemahan baru.

"Masalah justru datang ketika mereka stres dan terlalu memaksakan strategi lama yang dulunya sukses, padahal situasi menuntut pendekatan yang berbeda," kata Lea dalam rilis yang diterima Kompas.

com, Senin (15/6/2026).

Lea membagikan empat langkah praktis untuk mendeteksi pola respons tersebut. Pertama, mengidentifikasi pemicu.

Stres umumnya dipicu oleh situasi spesifik seperti tenggat waktu ketat, konflik, atau tugas dengan visibilitas tinggi.

Kedua, mencermati respons otomatis.

>>> Piala Dunia 2026 Diharapkan Jadi Momentum Perdamaian Global

Tiap individu memiliki kecenderungan refleks yang berbeda ketika tertekan, seperti mendominasi kontrol, menarik diri, bekerja terlalu cepat, atau berusaha menyenangkan semua pihak.

"Kebanyakan pemimpin memiliki satu pola utama dan satu pola cadangan," ujar Lea. Ketiga, mengalkulasi dampak.

Setiap pola respons memiliki konsekuensi tersendiri, misalnya sikap terlalu mengontrol bisa mengikis rasa kepemilikan tim.

Keempat, memperluas opsi tindakan. Tujuan utamanya bukan menghapus kebiasaan lama, melainkan memiliki variasi tindakan saat krisis.

"Jika pola default kita adalah mempercepat, berlatihlah untuk berhenti sejenak sehingga kita dapat merespons dengan niat, bukan bereaksi karena kebiasaan," kata Lea.

Mendeteksi Sinyal Fisik Tubuh

Pengembangan respons baru dapat diawali dengan melatih kepekaan terhadap kondisi fisik. Tekanan emosional sering memicu reaksi biologis terlebih dahulu sebelum disadari pikiran.

Gejala fisik yang kerap muncul meliputi tarikan napas memendek, ketegangan pada otot bahu, hingga rahang yang mengatup rapat.

Pemimpin disarankan mengambil jeda singkat sekitar lima hingga sepuluh detik.

"Rasakan tubuh kita, perhatikan bagian mana yang tegang, dan sebutkan itu. Tiga puluh detik adalah perbedaan antara bereaksi dan memilih," ujarnya.

>>> Kemenag Gelar Nikah Massal Gratis di Jakarta Akhir Juni 2026

Melalui deteksi dini terhadap sinyal tubuh, seseorang dapat mengendalikan refleks otomatisnya.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru