⌂ Beranda News 5 Langkah Atasi Kecemasan di Usia 30-an, Fokus pada Prioritas Pribadi

5 Langkah Atasi Kecemasan di Usia 30-an, Fokus pada Prioritas Pribadi

5 Langkah Atasi Kecemasan di Usia 30-an, Fokus pada Prioritas Pribadi
Ilustrasi wanita usia 30-an sedang meditasi untuk mengatasi kecemasan
A A Ukuran Teks16px

Memasuki usia 30-an sering dianggap sebagai fase kehidupan yang lebih mapan. Namun, tidak sedikit individu justru menghadapi kecemasan berlebih pada periode ini.

Tekanan untuk mencapai kesuksesan karier, membina rumah tangga, memiliki keturunan, hingga memenuhi ekspektasi sosial menjadi pemicu utama. Hal ini kerap menimbulkan perasaan tertinggal dibandingkan pencapaian orang lain.

>>> Kemendikdasmen Tetapkan Aturan Batas Usia Penerimaan Murid Baru PAUD 2026

Menurut konselor profesional berlisensi Kristen Jacobsen, terdapat beberapa langkah yang dapat diterapkan untuk mengelola kondisi psikologis tersebut.

Langkah Mengelola Kecemasan

Langkah pertama adalah menjalani hidup berdasarkan standar sendiri, bukan standar orang lain. Jacobsen menyarankan individu untuk merefleksikan diri guna memahami hal yang benar-benar memberi makna.

"Banyak orang terpaku pada garis waktu tentang kapan sesuatu seharusnya terjadi.

Saya mendorong mereka untuk melihat ke dalam diri dan mencari apa yang benar-benar memberi makna dan tujuan," ujar Jacobsen.

Kedua, dokumentasikan perkembangan yang telah diraih. Kecemasan kerap mengaburkan pandangan sehingga hanya berfokus pada hal yang belum dimiliki.

Mencatat pencapaian seperti keluar dari hubungan tidak sehat atau berani pindah kota dapat mengubah sudut pandang.

>>> Arab Saudi Tantang Uruguay di Laga Perdana Grup H Piala Dunia 2026

Ketiga, batasi pemicu perbandingan sosial. Media sosial sering memicu kecemasan melalui unggahan momen bahagia orang lain.

Membatasi interaksi dengan akun atau konten yang memicu cemas dapat menjaga stabilitas mental.

Keempat, terima ketidaksempurnaan hidup. Tidak semua aspek kehidupan berada di bawah kendali manusia.

Melepaskan kebutuhan untuk mengontrol segala sesuatu membantu mengurangi tekanan.

Kelima, beri ruang untuk kegagalan. Pada usia 30-an, muncul stigma bahwa tidak boleh melakukan kesalahan.

Memberi kelonggaran untuk mencoba hal baru dan belajar dari kesalahan mengurangi ketakutan akan masa depan.

>>> Jaksa Agung Florida Gugat OpenAI dan CEO Sam Altman

Alih-alih memandang kegagalan sebagai ketidakmampuan, jadikan sebagai momentum belajar. Pendekatan ini membuat tekanan pada usia 30-an lebih ringan dan mudah dikelola.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru