Bermain bukan sekadar kegiatan menyenangkan bagi anak, melainkan juga sarana belajar yang efektif.
Melalui aktivitas bermain, anak dapat mengenali potensi diri, membangun rasa percaya diri, serta mengembangkan keterampilan sosial yang berguna hingga dewasa.
>>> Menteri ESDM Usulkan Rp 815 Miliar untuk Program Kompor Listrik RAPBN 2027
Metode permainan terus berevolusi seiring perkembangan zaman.
Kini, konsep permainan imersif mulai populer dengan memadukan gerakan fisik, tantangan, visual, audio, dan narasi dalam satu pengalaman utuh.
Salah satu penyedia konsep tersebut adalah Wonderlab yang mengusung tema "universe of play and learning".
Berlokasi di Level 6 Senayan City, Jakarta, tempat ini menyediakan lebih dari 20 wahana interaktif.
Melatih Karakter Melalui Permainan Fisik
Co-Founder & President Director Wonderlab, Belinda Luis, menjelaskan bahwa aspek penting seperti daya tahan mental, ketangguhan, kolaborasi, dan kemampuan memecahkan masalah sering terstimulasi melalui pengalaman fisik dan interaksi langsung saat anak bermain.
Salah satu wahana mewajibkan anak menjaga keseimbangan tubuh untuk berpindah tempat. Kegiatan ini melatih koordinasi motorik sekaligus menuntut anak berpikir dan mengambil keputusan dalam waktu singkat.
"Itu merupakan salah satu skillset yang tanpa sadar dilatihkan movement dan keseimbangannya, supaya mereka bisa menebak bagaimana caranya mendapatkan better movements secara fisik, lalu juga meningkatkan kemampuan kognitif mereka," ujar Belinda dalam konferensi pers di Senayan City, Jakarta, Senin (15/06).
Beberapa wahana juga dirancang agar anak harus berkolaborasi dengan pengunjung lain untuk menyelesaikan tantangan. Melalui interaksi tersebut, anak belajar berkomunikasi, bernegosiasi, dan memahami esensi kerja tim.
"Sportsmanship dan teamwork itu adalah salah satu skill yang anak-anak akan belajar di sini," tutur Belinda.
Penerapan Teknologi Digital dan Multisensori
Wonderlab dikembangkan berdasarkan prinsip bahwa pertumbuhan fisik dan mental anak harus berjalan seimbang.
Di tengah besarnya perhatian orang tua pada capaian akademik, Belinda menilai pengalaman bergerak aktif, menghadapi tantangan baru, dan belajar bangkit dari kegagalan sangat penting dalam membentuk kepribadian anak.