⌂ Beranda News Siklon Senyar Tewaskan 7% Populasi Orang Utan Tapanuli, Ancam Kepunahan

Siklon Senyar Tewaskan 7% Populasi Orang Utan Tapanuli, Ancam Kepunahan

Siklon Senyar Tewaskan 7% Populasi Orang Utan Tapanuli, Ancam Kepunahan
Orang utan Tapanuli di habitat hutan Sumatra
A A Ukuran Teks16px

Bencana Siklon Senyar yang melanda Aceh dan Sumatra Utara pada akhir November 2025 membawa dampak mematikan bagi orang utan Tapanuli.

Spesies kera besar paling terancam di dunia itu kehilangan sekitar 7% populasinya akibat banjir dan longsor.

>>> Presiden Jerman Temui Prabowo di Istana Merdeka, Sampaikan Apresiasi dalam Bahasa Indonesia

Siklon Senyar memicu hujan ekstrem dan longsor besar yang menewaskan lebih dari 1.000 orang. Peristiwa ini disebut sebagai anomali yang diperparah oleh deforestasi dan perubahan iklim.

Awalnya, para ahli konservasi memperkirakan dampak terhadap orang utan tidak terlalu besar. Namun, studi terbaru yang dipublikasikan pada Rabu (10/6/2026) menunjukkan gambaran yang jauh lebih suram.

Penelitian tersebut mencatat sekitar 58 individu dari total sekitar 800 orang utan Tapanuli mati akibat banjir dan longsor.

Angka itu setara dengan 7% populasi dan masih tergolong konservatif karena belum menghitung kerusakan habitat serta berkurangnya sumber makanan pascabencana.

Temuan di Lapangan

Beberapa pekan setelah siklon, tim kemanusiaan menemukan bangkai orang utan di antara lumpur dan tumpukan kayu di Desa Pulo Pakkat, Tapanuli Tengah.

Deckey Chandra, anggota tim kemanusiaan, mengaku baru pertama kali melihat satwa liar mati dalam kondisi seperti itu.

"Dulu mereka datang ke sini untuk makan buah. Tapi sekarang sepertinya tempat ini menjadi kuburan mereka," ujar Deckey Chandra.

Peneliti Erik Meijaard dari Borneo Futures yang melihat dokumentasi temuan tersebut menggambarkan kondisi sangat ekstrem. "Yang mengejutkan saya adalah seluruh daging di wajahnya telah terkoyak," katanya.

Ia menambahkan bahwa longsor besar menghancurkan beberapa hektar hutan, membuat orang utan yang lincah sekalipun tak berdaya. "Ibarat neraka di dalam hutan saat itu," ujar Erik Meijaard.

>>> Belanda Ditahan Imbang Jepang 2-2 di Texas

Para peneliti memperingatkan bahwa hujan ekstrem seperti ini berpotensi semakin sering terjadi di masa depan. Populasi satwa pun semakin terancam.

Laporan penelitian menyebutkan bahwa kematian 58 individu dari 580 orang utan di wilayah tersebut berarti sekitar 10 hingga 11% populasi lokal.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru