⌂ Beranda News Data Center AI di Luar Angkasa Dikritik, Ilmuwan Khawatir Dampaknya

Data Center AI di Luar Angkasa Dikritik, Ilmuwan Khawatir Dampaknya

Data Center AI di Luar Angkasa Dikritik, Ilmuwan Khawatir Dampaknya
Ilustrasi: Data Center AI di Luar Angkasa Dikritik, Ilmuwan Khawatir Dampaknya
A A Ukuran Teks16px

Gagasan membangun data center kecerdasan buatan (AI) di luar angkasa mulai menuai sorotan. Sejumlah ilmuwan dan kelompok lingkungan memperingatkan proyek tersebut berpotensi menimbulkan dampak yang belum sepenuhnya dipahami.

Ide ini muncul seiring meningkatnya kebutuhan komputasi AI yang mengonsumsi listrik sangat besar. Beberapa perusahaan antariksa, termasuk SpaceX, mengusulkan pembangunan data center di orbit yang ditenagai panel surya.

>>> Marselino Ferdinan Dipastikan Absen di Sisa Piala AFF 2026

Lebih dari 100 ilmuwan, pakar antariksa, dan organisasi lingkungan telah meminta regulator Amerika Serikat melakukan kajian dampak lingkungan sebelum proyek tersebut diizinkan berjalan.

Mereka menilai rencana mengirim jutaan satelit ke orbit tidak boleh dilakukan tanpa memahami risikonya.

"Kita tidak boleh mengulangi kesalahan dengan meluncurkan teknologi baru tanpa terlebih dahulu memahami dampaknya terhadap lingkungan," demikian isi seruan para ilmuwan seperti dikutip dari NBC News, Senin (3/8/2026).

Data center AI membutuhkan pasokan listrik yang sangat besar untuk melatih dan menjalankan model kecerdasan buatan.

Di Bumi, kebutuhan energi tersebut memicu kekhawatiran terhadap emisi karbon, konsumsi air untuk pendinginan, dan tekanan pada jaringan listrik.

Di luar angkasa, panel surya dapat menghasilkan listrik hampir tanpa terputus karena satelit terus menerima sinar Matahari.

Selain itu, pemrosesan data di orbit juga dinilai dapat mengurangi kebutuhan mengirim data mentah kembali ke Bumi.

Meski terdengar menjanjikan, para ilmuwan menilai teknologi ini masih menghadapi banyak tantangan. Salah satu masalah terbesar adalah pembuangan panas.

Berbeda dengan di Bumi yang dapat menggunakan udara atau air sebagai media pendingin, di ruang hampa panas hanya bisa dilepaskan melalui radiasi.

Sistem pendinginnya pun jauh lebih rumit dan berat.

>>> Bermain Buruk, Indonesia Dipecundangi Vietnam di Piala AFF 2026

Selain itu, seperti dikutip dari ScienceDaily, perangkat elektronik juga harus tahan terhadap radiasi kosmik, puing antariksa, serta sulit diperbaiki jika mengalami kerusakan.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru
STIKIBOTOM