PT Hatten Bali Tbk (WINE) menargetkan pertumbuhan pendapatan sekitar 5 persen pada tahun buku 2026. Emiten produsen wine lokal ini menyiapkan sejumlah langkah strategis untuk mencapai target tersebut.
Rencana kerja itu dipaparkan manajemen perseroan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) dan Annual Public Expose di Denpasar, Bali.
>>> Komisi X DPR RI Setujui Naturalisasi Luke Anthony Vickery untuk Timnas Indonesia
Langkah ekspansi diambil setelah perusahaan mencatatkan kinerja keuangan positif sepanjang 2025.
WINE sukses membukukan pendapatan Rp 286 miliar serta laba bersih Rp 40 miliar hingga akhir Desember 2025.
Pencapaian ini didorong pemulihan sektor pariwisata Indonesia, terutama di Bali yang menjadi pasar utama.
Data Kementerian Pariwisata menunjukkan Indonesia menyambut sekitar 15,38 juta wisatawan mancanegara selama 2025.
Dari total tersebut, Bali menyerap 6,94 juta kunjungan wisman atau berkontribusi lebih dari 45 persen kedatangan turis asing secara nasional.
Pemerintah menargetkan arus kunjungan wisman mencapai 16 juta hingga 17,6 juta orang pada 2026.
Manajemen WINE menilai tren positif ini akan mengatrol okupansi sektor perhotelan serta memperkuat performa saluran hotel, restoran, dan kafe (HoReCa).
Sektor HoReCa merupakan pilar bisnis utama perseroan dengan kontribusi 54 persen terhadap total pendapatan sepanjang 2025. Perusahaan memasuki 2026 dengan kondisi neraca keuangan yang kokoh.
Hingga akhir 2025, total ekuitas WINE tercatat Rp 338 miliar.
Rasio utang terhadap ekuitas (DER) sebesar 34 persen serta rasio lancar pada level 255 persen menunjukkan kesehatan keuangan yang baik.
"Kondisi ini memposisikan perseroan untuk dapat memanfaatkan berbagai peluang pertumbuhan," tulis perseroan dalam siaran pers, Senin (15/6/2026).
Ekspansi Gerai Cellardoor dan Produk Premium Baru di Jakarta
Fokus ekspansi WINE pada tahun ini menyasar pembukaan gerai Cellardoor pertama di Jakarta yang ditargetkan beroperasi akhir Juni 2026.
Fasilitas ini menjadi saluran penjualan langsung ke konsumen (direct-to-consumer) pertama di luar Bali.
Langkah ini diambil untuk mendongkrak visibilitas produk di ibu kota yang merupakan salah satu pasar konsumen terbesar nasional.