Danantara Indonesia menerbitkan obligasi global perdana (global bond) berbasis dollar AS senilai 1,5 miliar dollar AS pada Senin (15/6/2026).
Penerbitan ini dilakukan setelah permintaan dari investor internasional melonjak lebih dari tiga kali lipat dari target awal sebesar 1 miliar dollar AS.
>>> Real Madrid dan Manchester United Berebut Mateus Fernandes
Chief Executive Officer Danantara Indonesia Rosan Roeslani menyatakan bahwa total permintaan yang masuk mencapai 4,6 miliar dollar AS.
Menurut Rosan, besarnya minat tersebut mencerminkan tingginya kepercayaan pasar internasional terhadap fundamental ekonomi Indonesia.
"Kepercayaan market, kepercayaan dunia luar terhadap Indonesia itu sangat baik.
Ini tercermin dari mereka bersedia untuk membeli global bond-nya Danantara dari jangka yang lima tahun, 10 tahun dan bahkan mereka menyatakan kepada saya sangat-sangat terbuka apabila Danantara ingin menerbitkan bond sampai yang 30 tahun," ujar Rosan.
Kelebihan permintaan membuat manajemen memutuskan menaikkan volume penerbitan dari rencana awal 1 miliar dollar AS menjadi 1,5 miliar dollar AS.
>>> AS dan Iran Sepakati Nota Kesepahaman Perdamaian Awal
Dana hasil penerbitan dibagi rata ke dalam dua tenor, yaitu instrumen lima tahun senilai 750 juta dollar AS dan instrumen 10 tahun senilai 750 juta dollar AS.
Tingkat imbal hasil (yield) obligasi tenor lima tahun ditetapkan sebesar 5,35 persen, sedangkan tenor 10 tahun sebesar 5,95 persen.
Rosan menambahkan bahwa yield yang kompetitif menunjukkan investor tidak meminta premium tinggi, yang menandakan kepercayaan yang kuat.
Berdasarkan data sebaran geografis, investor Amerika Serikat mendominasi porsi kepemilikan obligasi tenor 10 tahun dengan persentase 52 persen.
Untuk tenor lima tahun, 38 persen investor berasal dari AS, 41 persen dari Eropa dan Timur Tengah, serta 21 persen dari Asia.
>>> Kelangkaan Solar di Sumatera: Alarm Sistem Logistik yang Rentan
Sementara itu, tenor 10 tahun diisi oleh 31 persen investor Eropa dan Timur Tengah serta 17 persen dari Asia.
